Home Alkisah Begini Cara Pahami Diri Dari Psikologi Naratif, Konsep Harga Diri dan Perspektif...

Begini Cara Pahami Diri Dari Psikologi Naratif, Konsep Harga Diri dan Perspektif Budaya

330
0
Ilustrasi

Semarang, 2/4 (BeritaJateng.net) –¬†Dalam upaya mengetahui bahwa kita berdaya berdasarkan kekuatan lokal yang kita miliki. Serta memahami manusia sebagai sebuah cerita. Selain itu juga membaca manusia sebagai kisah dan mencoba menghadirkan pembacaan atas dunia dan manusia dengan cara yang lebih jernih. Dengan demikian kita bisa memahami siapa diri kita sebenarnya.

Pemaparan ini disampaikan Bagus Takwin dalam Seminar Nasional, Workshop & Call for Paper 2016 bertema “Empowering Self” yang dihadiri 320 peserta, di Fakultas Ekonomi Unissula, Sabtu (2/4) siang.

Sebagai Dosen Psikologi UI, Bagus menjelaskan cara memahami diri melalui cerita hidup. Dia membahas mengenai Psikologi Naratif yang dipahami sebagai kajian tentang bagaimana cerita membentuk diri dan kepribadian seseorang yang pada akhirnya membentuk hidupnya berdasarkan teori Smith, Harre & Langenhove tahun 1995.

Dikatakan Bagus, psikologi naratif menurut Teori Bruner tentang manusia berdasarkan naratif sebagai metafora. “Kita bisa mengenali diri seseorang dari cerita hidupnya dengan menganalisis budayanya serta ceritanya berdasarkan waktu. Apakah budayanya seperti kebanyakan orang atau berbeda ? Apakah budayanya menyerupai budaya lain atau mirip dengan budaya kisah hidup orang tertentu ? Tema-tema apa yang menonjol dalam kisah hidup orang itu ?,” papar Bagus kepada seluruh peserta yang rata-rata merupakan mahasiswa psikologi.

Bagaimana gaya penceritaan yang digunakan pada diri seseorang, lanjutnya, apakah komedi, drama, tragedi, fiksi realistik, roman, satir, legenda, mite, perjuangan mencapai cita-cita, fantasi atau tragikomedi ?
Bagaimana gaya penceritaannya ? Metafor seperti apa yang digunakan ?

“Analisis terhadap cerita hidup seseorang seperti ini dapat memberikan pemahaman mengenai diri orang itu,” terangnya.

Bukan hanya melihat manusia dalam kemenampakan kisahnya apa adanya dan bukan membingkai manusia-manusia dalam kebenaran yang belum tentu sesuai dengan kenyataan. “Siapa pun ingin melihat dunianya secara lebih jernih,” tutur Bagus.

Melalui Psikologi Naratif, kita bisa meminta orang untuk menceritakan dirinya seperti apa. Manusia itu seperti cerita dan membentuk dirinya seperti cerita novel dan film. Ada yang melingkar-lingkar, protagonis, antagonis, ada juga yang memiliki bagian bagus dalam dirinya.

“Bisa dari pengalaman puncak, pengalaman yang membuat lemah (titik nadir) seperti ditolak dan sebagainya, bahkan gambaran masa depannya. Dengan demikian, orang tersebut dapat membuat bab-bab kehidupannya. Membuat kapasitas untuk lebih baik dari waktu ke waktu, baik bagi dirinya sendiri dan orang sekitar,” jelasnya.

Tentu semuanya dilihat dari motif dan tujuannya seperti apa, begitu pula yang dijelaskan A. Latief Wiyata. Dosen Antropolog Budaya Madura FISIP Universitas Jember ini menjelaskan Konsep Harga Diri dan Konflik Kekerasan Dalam Masyarakat dan Kebudayaan Madura.

Dipaparkannya, bagi orang madura tindakan tidak menghargai dan tidak mengakui atau mengingkari peran dan status sosial sama artinya dengan memperlakukan dirinya sebagai orang ‘tada’ ajhina’ (tidak bermakna secara sosial dan budaya) yang pada gilirannya menimbulkan perasaan terhina jika harga dirinya dilecehkan akibat dari perbuatan orang lain.

“Orang Madura akan merasa malo atau terhina jika harga dirinya dilecehkan. Pelecehan harga diri sama artinya dengan pelecehan terhadap kapasitas dirinya,” papar Latief.

Sedangkan dalam Perspektif Budaya Jawa, Prof. Kwartarini Wahyu Yuniarti., M. Med, Sc., PhD., Psi mencoba menjelaskan bahwa identitas yang melekat pada diri memiliki banyak peran di dalam hidup karena manusia memiliki karakter atau kepribadian.

“Bagaimana kita bisa melihat diri kita sendiri dan untuk apa. Dihembuskannya ruh Allah ke dalam rahim seorang ibu. Tubuh yang tidak sempurna ini isinya adalah ruh Illahi Yang Maha Sempurna. Jangan pernah menurunkan derajat teman-teman kita, karena mereka adalah orang yang tidak sempurna,” imbuh Dosen Psikologi UGM ini.

Di dalam penjelasannya, Kwartarini juga menampilkan beberapa tayangan yang diakuinya sengaja dibuatnya karena dia beragama dan mempercayai adanya Tuhan. (BJT01)