Home Headline BBWS: Pompa Kali Tenggang Akan Kurangi Dampak Banjir

BBWS: Pompa Kali Tenggang Akan Kurangi Dampak Banjir

284
0
Tinjauan BBWS terkait proyek normalisasi sungai Banjir Kanal Timur (BKT) Semarang.

Semarang, 13/2 (BeritaJateng.net) – Kali Tenggang memiliki daerah tangkapan air atau ‘Catchment Area’ yang luas yakni mencapai 25 kilometer persegi. Dari jumlah penduduk sekitar 600 ribu jiwa di sekitar lokasi, terdampak banjir diperkirakan mencapai 400 ribu jiwa bila air melimpas.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana, Ruhban Ruzziyatno, mengatakan, adanya pompa di Kali Tenggang ternyata mampu mengurangi terdampak banjir. Hanya saja, tambah dia, pemasangan pompa masih belum selesai secara keseluruhan. Diperkirakan akhir Februari, proses tersebut dapat terlaksana.

”Jika proses penerapan pompa dapat berlangsung secara maksimal maka terdampak banjir dimungkinkan tidak akan lagi ada,” ujar dia.

Selain itu, dia menyatakan jika di atas Kali Tenggang juga terdapat kolam retensi di Banjardowo, Genuk, yang pembangunannya telah selesai. Berkapasitas 33 ribu meter kubik, kolam ini dapat menyerap air di kawasan permukiman di sekitarnya.

”Air-air yang melimpas kemudian di pompa untuk dibuang ke Kali Babon. Setidaknya ada beberapa titik pompa yang terpasang membantu mengurangi debit air yang besar di daerah atas. Melalui pompa terintegrasi, luapan air juga diharapkan bisa dikurangi sebelum mencapai Kali Bringin yang berada di bawah,” papar dia.

Menurut Ruhban, konservasi di Kali Bringin dulu sebenarnya telah cukup bagus dengan konsep perhutanannya. Sejak konsep pembangunan perumahan mulai merambah hingga kawasan tersebut, diperlukan adanya penanganan lingkungan berkelanjutan.

”Siklus Hidrologi sebenarnya berlangsung normatif dan tetap. Dimulai dari hujan, yang kemudian disimpan airnya melalui resapan kawasan hutan dan sebagian air mengalir melalui sungai. Konsep Daerah Aliran Sungai (DAS) yang bagus seperti ini. Hasilnya, hujan deras tidak akan membuat banjir dan musim kering tidak kekurangan air,” tutur dia.

Sementara kondisi yang ada saat ini, lanjut dia, semua air yang turun dari hujan mengalir keseluruhan secara langsung ke laut. Membuat sebagian besar sungai seringkali melimpas. Selain itu, melalui peraturan baru pemerintah maka saat ini setiap bangunan di bantaran sungai harus ada perijinannya. Untuk memudahkan penanganan normalisasi sungai, seharusnya tidak diperbolehkan adanya bangunan di bantaran sungai.

”Akibat alih fungsi lahan, kita harus menghitung dan merancang ulang kembali. Untuk itu perlu penanganan dengan menormalisasi Kali Beringin. Hampir setiap tahun dipastikan mengalami jebol,” ungkapnya. (El)