Home Headline BBWS Kebut Normalisasi Sungai BKT Semarang

BBWS Kebut Normalisasi Sungai BKT Semarang

191
0
Tinjauan BBWS proyek Normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) Semarang.
     Semarang, 2/4 (BeritaJateng.net) – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana mengebut proyek normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) Semarang tahap I mulai Jembatan Majapahit sampai hilir di kawasan Tambaklorok, Semarang.
     “Normalisasi sudah dimulai sejak akhir 2017 dan sesuai kontrak berakhir pertengahan 2019,” kata Kepala BBWS Pemali-Juana Rubhan Ruziyatno, saat meninjau pengerjaan normalisasi Sungai BKT Semarang, Senin.
     Akan tetapi, kata dia, pihaknya sudah meminta percepatan pengerjaan proyek normalisasi sepanjang 6,5 kilometer itu kepada kontraktor pelaksana agar bisa menyelesaikannya pada akhir 2018.
     Ia menyebutkan pengerjaan normalisasi dengan anggaran Rp500 miliar itu pada tahap I dibagi dalam tiga paket, yakni paket I mulai hilir sampai jembatan kereta api (KA) di kawasan Kaligawe, Semarang.
     “Paket II mulai jembatan KA Kaligawe sampai Jembatan Citarum, kemudian paket III dari Jembatan Citarum sampai Jembatan Majapahit. Sampai saat ini, progresnya memang baru dua persenan,” katanya.
     Namun, ia optimistis kontraktor pelaksana bisa melakukan percepatan agar pengerjaan proyek normalisasi Sungai BKT Semarang tahap I dengan meminta penambahan alat berat dan pekerja.
Tinjauan BBWS terkait proyek normalisasi sungai Banjir Kanal Timur (BKT) Semarang.

Diakuinya, pengerjaan normalisasi Sungai BKT Semarang tahap I masih menemui sejumlah kendala di bagian hilir, yakni masih adanya 143 hunian yang masih ditempati dan keberadaan pipa gas.

     Rubhan mengatakan sudah berkoordinasi dnegan pemerintah daerah agar bisa segera merelokasi masyarakat yang masih menghuni kawasan proyek normalisasi agar pengerjaan bisa berjalan dengan lancar.
     “Untuk pipa gas, kami sudah berkoordinasi dengan pihak pengelola, nanti ada pendampingan. Untuk hunian, rencananya minggu depan sudah ada 73 kepala keluarga (KK) yang direlokasi,” katanya.
     Ia menjelaskan normalisasi di bagian hilir relatif berat karena sebagian lahan berupa tambak ikan yang harus dikeringkan dulu menggunakan alat penyedot lumpur, kemudian dibangun tanggul.
     “Harus kering dulu. Setelah kering, ditimbun untuk dibangun tanggul. Kalau tidak dikeringkan dulu tidak akan kuat nanti tanggulnya. Nanti, pakai alat khusus penyedot lumpur,” katanya.
     Setelah normalisasi, kata dia, kedalaman sungai akan mencapai tiga meter, tidak seperti sekarang yang kedalamannya rata-rata hanya 1,5 meter dan tidak beraturan karena banyaknya sedimentasi. (El)