Home Lintas Jateng Batuan Khas Semarang, Fosil Siput Dari Gua Kreo

Batuan Khas Semarang, Fosil Siput Dari Gua Kreo

Batu Moluska fosil siput yang di temukan di Gua Kreo
Batu Moluska fosil siput yang di temukan di Gua Kreo

Semarang, 28/5 (BeritaJateng.net) – Perkembangan batu akik yang semakin ‘Booming’ menyebabkan banyak pula temuan batu dari daerah-daerah yang semakin banyak bermuncul, seperti yang dilakukan Lilik, warga Semarang yang memperkenalkan batu akik dari fosil muloska atau golongan siput yang ditemukannya di daerah Goa Kreo, Gunungpati, Semarang.

Lilik yang memiliki nama asli Agus Suhardi ini, mengaku dirinya adalah seorang pertapa yang lebih dari delapan tahun menyendiri di kawasan Gua Kreo. “Saya dahulu sering menyendiri atau bertapa di daerah itu (Goa Kreo), ya, sekitar 2002. Waktu itu, masih hutan lebat,” katanya.

Dalam perjalanan spiritualnya, pria berusia 60 tahunan itu mengaku bermimpi bahwa batu yang didudukinya saat bertapa merupakan batu istimewa dan bermanfaat untuk menyembuhkan berbagai penyakit.

Ia menceritakan ada sebuah batu besar yang dijadikannya sebagai tempat duduk waktu bertapa yang bentuknya seperti tumpukan kerang. Namun, dirinya tidak mengetahui jenis batuan tersebut.

“Karena saya tinggal di hutan, banyak orang desa di sekitar Goa Kreo yang menganggap saya orang pintar, sesepuh, dan sebagainya. Kalau ada yang sakit, mereka sering minta tolong saya,” katanya.

Awalnya, Mbah Lilik mengaku bingung. Namun, setelah teringat dengan mimpinya akhirnya dicarinya bongkahan batu itu yang kemudian direndamnya sebelum diminumkan kepada orang yang menderita sakit.

“Ya, saya bacakan doa saja, bismillah, lalu (air rendaman, red.) saya minumkan. Ternyata, banyak yang sembuh. Akhirnya, makin banyak yang datang ke saya untuk meminta tolong,” ungkapnya.

Setelah delapan tahun, Mbah Lilik akhirnya turun gunung sembari membawa bongkahan batu itu karena tertarik dengan keistimewaannya, dan salah satunya dicobanya untuk dijadikan batu cincin.

“Jauh sebelum ‘booming’ sekarang ini. Saya belum tahu itu batu apa, baru tahu, ya, baru-baru ini. Setelah diteliti ahli geologi museum Jawa Tengah Rangga Warsita, ternyata batu ini adalah jenis fosil moluska,” katanya.

Seiring dengan “booming” batu akik belakangan ini, Mbah Lilik mengaku ikut memproduksi batu akik dari fosil moluska untuk mengenalkannya batu khas Goa Kreo itu kepada masyarakat luas.

Bongkahan batu fosil moluska berukuran cukup besar itu pun dipamerkan pula di museum, bertuliskan “Batuan Fosil Moluska (See Quartis) Asal: Goa Kreo, Gunungpati, Semarang”, beserta penjelasan di bawahnya.

Dalam Pameran Batu di Museum Rangga Warsita beberapa waktu lalu, juga di pajang batuan temuan Lilik ini, terdapat keterangan yang menyebutkan Batuan fosil Moluska (See Quartis) merupakan Konglomerat Fosil Siput yang berjumlah banyak namun bukan merupakan tambang.

Penggemar batu mulia justru banyak yang terpesona dari kalangan putihan dan kolektor, karena terkenal memiliki aura magis dan keramat. Batuan ini merupakan jenis batu Marmer-Calsedon atau orang menganggap batu mata kura. Memiliki cirri warna kuning kecoklatan, kuning kehijauan, kuning kehitaman, tidak terlalu keras batunya namun bening dan berkilau. (Bj05)