Home Life Style Batu Akik Khas Semarang, Galih Asem dan Galih Kelor

Batu Akik Khas Semarang, Galih Asem dan Galih Kelor

Slamet penemu batu khas Semarang, Akik Galih Asem dan Galih Kelor.
Slamet penemu batu khas Semarang, Akik Galih Asem dan Galih Kelor.

Semarang, 13/5 (BeritaJateng.net) – Boomingnya batu akik semakin terasa, berbagai daerah diyakini menjadi penghasil batu yang berkualitas dan mahal. Namun ternyata masih banyak yang belum tahu batu khas Kota Semarang.

Batu akik Galih Asem dan Galih Kelor namanya. Merupakan batuan yang diolah oleh pengrajin dari fosil pohon asam dan pohon Kelor yang berusia ratusan tahun. Asal nama Kota Semarang sendiri menurut legenda berasal dari kata asam dan arang sehingga batu itu disebut batu khas Semarang.

Fosil kayu yang telah diolah menjadi batu akik.
Fosil kayu yang telah diolah menjadi batu akik.

Penemu sekaligus pengrajin Akik ini adalah Slamet (41) warga jalan Tambra Dalam 2, Kelurahan Kuningan, Semarang Utara.

“Dulu, di Kota Semarang ini banyak terdapat pohon asam, salah satunya di sepanjang Jalan Mataram (Jalan Mt Haryono, red.), namun kini sudah banyaj yang ditebangu untuk pemukiman warga,” katanya, saat ditemui di rumah sekaligus bengkel kerjanya di Semarang, Selasa.

Meski dari fosil kayu, namun tingkat kepadatan dan kerasnya sama seperti batu pada umumnya. Warna coklat kayu menjadi warna yang khas, dan apabila diterangi dengan senter, maka sinarnya menembus batu dan memperlihatkan motif serabut seperti akar yang ada di dalamnya.

“Sudah lama sejak tahun 1989 sudah mulai membuat akik, termasuk Galih Asem dan Galih Kelor ini tapi keduanya belum  bisa booming selama ini,” tandasnya.

Salah satu pembeli memilih batu akik khas Semarang, Galih Asem dan Galih Kelor
Salah satu pembeli memilih batu akik khas Semarang, Galih Asem dan Galih Kelor

Harga Akik buatan Slamet ini di kalangan kolektor bisa mencapai jutaan rupiah, namun Slamet menjualnya paling mahal sekitar Rp 300 ribu. Ia bermaksud agar peminat Galih Asem banyak dan bisa  memperkenalkan batu itu ke masyarakat.

“Yang saya sayangkan di Semarang,  masyarakat khususnya pemerintah daerah kurang memperhatikan. Padahal Semarang punya identitas luar biasa, Aceh punya giok, Purwokerto punya Klawing, Semarang ada ini,” katanya.

Ayah tiga anak itu mengaku cukup sulit mendapatkan fosil pohon Asam itu. Selain lokasi di perbukitan, ia menjalani persyaratan mengelilingi 99 pemakaman di Semarang. Seorang diri dia menggali hingga kedalaman 12 meter untuk mendapatkannya.

“Saya kerap berziarah ke makam-makam wali, termasuk di Kota Semarang. Ada 99 makam wali yang saya ziarahi, antara lain Makam Kiai Sholeh Darat, Makam Syeh Maulana Jumadil Kubro dan Makam Syeh Siwalan,” katanya.

Dari hasil perjalanan spiritualnya, Slamet mengaku mendapatkan petunjuk lewat mimpi untuk mencari dan menemukan tiga jenis batuan yang ada di Kota Semarang, yakni Galih Asam, Galih Kelor, dan Sodo Lanang.

“Kalau galih, ini adalah bagian inti dari pohon. Meski berupa fosil, kekuatan batuan ini tidak bisa diremehkan karena sama kerasnya dengan jenis akik lainnya, terutama bagian yang mengkristal,” katanya.

Akhirnya, Slamet mulai mencari tiga jenis batuan itu dan sampai sekarang ini baru menemukan dua, yakni Galih Asam dan Galih Kelor, sementara jenis batu Sodo Lanang belum ditemukannya sampai sekarang.

Setelah diolah dan dipoles, batu temuan Slamet itu ternyata menampakkan beragam motif yang indah, idominasi warna coklat, hitam, putih, dan abu-abu, di samping dilihat dari khasiat secara mistisnya.

Sampai sekarang, Slamet masih merahasiakan lokasi penemuan batuan tersebut karena khawatir terjadi eksploitasi besar-besaran di tempat tersebut yang akan mengancam kelestarian alam dan keselamatan warga sekitar.

“Saya tahu tempatnya, namun saya tidak mau menyebutkan. Yang jelas, ada yang di lereng di sebuah kawasan permukiman di Semarang. Kalau itu dikeruk, permukiman di atasnya berbahaya, bisa longsor,” katanya.

Pria yang akrab disapa Mbah Met itu lebih memilih mengambil bebatuan yang ada di dasar jurang di sebuah tempat di Kota Semarang yang memiliki kedalaman sekitar 12 meter dan dilakukannya secara manual.

“Saya biasanya puasa dulu satu hari sebelum mengambil batu-batu itu. Saya ambil seperlunya saja. Saya jual paling mahal sekitar Rp 300 ribu/buah, padahal di tangan kolektor bisa berharga jutaan rupiah,” katanya.

Sekarang ini, Slamet kerap mendapatkan pembelian akik Galih Asam dan Galih Kelor dalam partai besar, seperti dari Batam sebanyak 200 biji, Surabaya sebanyak 150 biji, dan Pulau Bintan sebanyak 70 biji. (Bj05)