Home Ekbis Baru 5 Kabupaten/Kota Yang Sudah Tetapkan HET Elpiji 3 Kilogram

Baru 5 Kabupaten/Kota Yang Sudah Tetapkan HET Elpiji 3 Kilogram

Yudhi Sancoyo
Yudhi Sancoyo
Yudhi Sancoyo

Semarang, 18/6 (BeritaJateng.net) – Sungguh ironis perhatian pemkab/pemkot di Jawa Tengah sangat kurang dalam melindungi masyarakat pemakai elpiji 3 kilogram. Dari 35 kabupaten/kota ternyata baru 5 yang menentukan Harga Eceran Tertinggi (HET) elpiji melon tersebut. Kelimanya adalah Kab Semarang, Kota Semarang, Kab Pekalongan, Kab Wonosobo dan Kab Kendal.

Sehubungan dengan hal tersebut, DPRD Jateng meminta Gubernur Ganjar Pranowo untuk memanggil 35 Kepala Daerah yang wilayahnya masih bermasalah dengan harga elpiji 3 kilogram di pengecer yang mencapai Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu. Harga tersebut jauh diatas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan Gubernur Ganjar Pranowo yang tertuang dalam keputusan No 541/15/2015 yakni sebesar Rp. 14.250 di agen dan Rp. 15.500 di pangkalan

Wakil Ketua Komisi B DPRD Jateng, Yudhi Sancoyo mengatakan 30 Kabupaten/kota bermasalah dan semena-mena memainkan harga gas elpiji 3 kilogram.

“Seharusnya surat ini dipatuhi oleh 30 Kabupaten/Kota di Jateng. Ketika persoalan muncul seharusnya juga Gubernur meminta kepala daerah untuk melakukan operasi. Sehingga harganya bisa terkendali. Bukannya malah dibiarkan dan hanya sibuk sendiri,” tegasnya.

Menurutnya, di Jawa Tengah saat ini terdapat 345 agen dan 27.304 pangkalan. Namun, keberadaan pangkalan sebanyak itu tidak merata sehingga di beberapa daerah sering kesulitan mendapatkan suplai gas elpiji melon.

Ia menjelaskan, ada tiga persoalan gas elpiji. Yakni skema distribusi gas elpiji, pengawasan gas dari pangkalan ke pengecer dan sanksi yang kurang tegas terhadap harga jual yang tinggi karena kelangkaan elpiji melon. Padahal gas 3 kg di agen Rp 14.250 ribu meliputi harga eks di depot Pertamina Rp 11.500, keuntungan agen Rp 1.200, biaya operasional Rp 1.550 dan harga jual sebesar Rp 14.250.

“Pengawasan Pertamina dan migas hanya sampai ke pangkalan saja. Justru persoalan intinya ada di luar pangkalan. Klasiknya lagi, mereka pasti minta ongkos perjalanan karena jauh. Seharusnya permasalahan seperti itu tidak terjadi karena agen sudah diberi keuntungan,” jelasnya.

Oleh karena itu, Hismawa Migas akan turun ke lapangan dan mengecek distribusi gas elpiji 3 kg. Selain itu, pihaknya juga meminta daftar pengecer gas elpiji harus teregistrasi baik nama maupun alamat.

Hal itu sebagai upaya untuk memudahkan dalam pengontrolan. Meskipun terjadi penyimpangan, pihaknya dapat mengetahui secara tepat dan cepat lantaran sudah mengantongi nama dan alamat pengecer. “Kalau ada pengecer yang menjual di atas HET, langsung cabut saja izinya,” tegasnya.(BJ13)