Home Ekbis Baru 3,5 Persen UMKM di Jateng Manfaatkan Teknologi Digital

Baru 3,5 Persen UMKM di Jateng Manfaatkan Teknologi Digital

265
Wakil walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu berfoto bersama dengan ASN Pemkot Semarang saat mengunjungi pameran UMKM.

Semarang, 6/4 (BeritaJateng.net) – Pemanfaatan teknologi digital bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Jawa tengah masih sangat minim. Hal ini terbukti dari 137ribu UMKM binaan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa tengah, baru sekitar 3,5 persen UMKM yang memanfaatkan internet dalam pemasaran produknya.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jateng, Ema Rachmawati mengakui jika pertumbuhan startup atau UMKM yang memanfaatkan tekhnologi internet saat ini memang masih sedikit. Padahal, banyak potensi yang bisa didapat dari pemanfaatan teknologi digital.

“Memang pak Gubernur kemarin disentil oleh Pak Jokowi, kita baru 3,5 persen kalah dengan jawa timur yang sudah 11 persen, jawa barat yang sudah 10 persen,” ungkapnya.

Ema mengakui sejumlah hal yang menjadi hambatan pertumbuhan startup diantaranya karena masih sedikitnya UMKM yang melek secara tekhnologi. Sebagai upaya untuk mendorong UKM agar lebih melek technologi, pemprov Jateng telah membangun heterospace.

“Dengan heterospace kami berikan fasilitas untuk pendampingan kepada UKM untuk lebih paham dunia digital. Kita juga siapkan pendamping berupa heterospace mobil di 35 kabupaten kota di Jateng,” ungkapnya.

Saat ini perkembangan ekonomi digital di Indonesia sangat impresif. Laporan East Ventures Digital Competitiveness Index (EVDCI) menyebutkan bahwa Nilai pasar ekonomi digital Indonesia telah menembus US$40 miliar pada 2019 dan diproyeksikan mencapai US$133 miliiar pada 2025.

Laporan EV-DCI menunjukkan bahwa ekonomi digital yang saat ini tumbuh pesat, hanyalah sebagian kecil dari potensi Indonesia.

Namun pertumbuhan bakal makin melesat jika Indonesia bisa menanggulangi beberapa kendala yang dihadapi seperti keterbatasan talenta digital, pelaku usaha yang enggan menggunakan produk digital, hingga akses atas layanan finansial yang rendah.

Dari data yang disajikan oleh EVDCI, para pemangku kepentingan dan sektor publik dan sektor swasta bisa saling membandingkan tingkat pemanfaatan teknologi digital di wilayah masing-masing.

Misalnya, bagi pemimpin di tiap daerah, dengan memanfaatkan indeks tersebut dapat semakin terpacu untuk berlomba menciptakan ekosistem yang terbaik bagi perkembangan ekonomi digital, baik lewat pembangunan infrastruktur, pengembangan talenta, maupun regulasi yang tepat.

Bagi para pemain besar di industri teknologi Indonesia, EV-DCI bisa menjadi panduan untuk melangkah lebih jauh dari kota-kota besar ke seluruh pelosok Tanah Air, untuk membantu lebih banyak bangsa Indonesia menikmati manfaat perekonomian digital. Untuk mereka yang akan atau baru merintis bisnis, EV-DCI adalah sebuah peta peluang. (El)