Home Hukum dan Kriminal Bareskrim Polri Akan Periksa Dita soal Penganiayaan Masinton

Bareskrim Polri Akan Periksa Dita soal Penganiayaan Masinton

732

Jakarta, 2/2/16(BeritaJateng.Net)–Kasus dugaan penganiayaan anggota komisi III terhadap stafnya berbuntut panjang. Badan Reserse Kriminal Polri hari ini melayangkan surat panggilan untuk Staf Ahli anggota Komisi III DPR Masinton Pasaribu, Dita Aditia Ismawati, sebagai saksi kasus dugaan penganiayaan yang ia adukan.

“Bareskrim sudah buat tim. Kegiatan hari ini membuat dan mengantarkan surat panggilan ke pelapor dan temannya pelapor,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Komisaris Besar Suharsono di Markas Besar Polri, Jakarta, Selasa (2/2/16).

Suharsono enggan membeberkan siapa teman Dita yang turut dipanggil Polri untuk diperiksa sebagai saksi. Penyidik menjadwalkan pemeriksaan pada Kamis mendatang.

Setelah diteliti oleh Biro Pembinaan dan Operasi, kata Suharsono, laporan itu diputuskan untuk ditangani oleh Direktorat Tindak Pidana Umum.

Dita mengaku dipukul oleh Masinton setelah dijemput dari Camden Bar di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, 21 Januari. Menurut Dita, dia mendapat bogem setelah diinterogasi di dalam mobil Masinton.

“Saat itu Bapak menginterogasi saya, ada keperluan apa saya berada di Camden Bar ketika jawaban saya tidak memuaskannya saya dipukul,” terang Dita

Masinton sendiri telah menampik tuduhan tersebut. Menurut Masinton, selama perjalanan dari bar, Dita histeris karena mabuk. Mobil sempat mengerem mendadak dan oleng ke kiri karena setir ditarik oleh Dita.

“Tangannya ditepis, terpental kena wajahnya,” kata Masinton.

Keterangan agak berbeda disampaikan staf ahli Masinton yang lain, Abraham Leo Tanditasik, yang saat itu, kata dia, semobil bersama dia dan Dita.

Abraham mengatakan, saat di tengah jalan, Dita berteriak histeris dan tiba-tiba menarik kemudi yang menyebabkan mobil oleng ke kiri jalan dan nyaris menabrak trotoar.

Ketika itu, ujar Abraham, dia secara refleks mengerem mendadak sambil menepis tangan Dita yang dalam posisi menarik kemudi mobil.

“Tepisan tangan kiri saya mengenai tangan dan wajah Dita. Dita teriak histeris di dalam mobil, dan Pak Masinton berupaya untuk menenangkan Dita,” kata Abraham.

Berdasarkan versi Abraham, tangan dialah yang mengenai wajah Dita, bukan tangan Dita sendiri seperti disampaikan Masinton sebelumnya.

Sementara itu Wakil Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan Junimart Girsang menyatakan sebagai anggota dewan Masinton yang melakukan penganiayaan terancam mendapat sanksi etik berat, sebab penganiayaan dianggap sebagai tindakan tak berperikemanusiaan.

“Tentu berat ya ancaman sanksinya. Namanya juga penganiayaan. Itu kan tidak berperikemanusiaan. Apalagi terhadap seorang perempuan. Tidak boleh,” kata junimart.(Bj50)

Advertisements