Home Ekbis Balitbangtan RI Dukung Pemkab Demak Hidupkan Peran Sorgum dalam Pola Makan Rakyat

Balitbangtan RI Dukung Pemkab Demak Hidupkan Peran Sorgum dalam Pola Makan Rakyat

57
0
Pengunjung menikmati hasil olahan sorgum

Demak, 9/10 (BeritaJateng.net) – Pemerintah Kabupaten Demak, melalui Dinas Pertanian dan Pangan mencoba menghidupkan kembali peran sorgum dalam pola konsumsi masyarakat. Hal itu mengingat Kabupaten Demak terkenal sebagai penghasil sorgum (canthel) yang populasinya memang berkembang pesat di dataran rendah yang kering.

Joni Munarso, Peneliti Utama Balitbangtan Kementrian Pertanian RI, mengatakan, riset Balitbangtan tahun 1986 mencatat bahwa petani di sentra produksi sorgum ini mengkonsumsi sorgum dengan cara membuat nasi dari campuran beras dan berasan sorgum dengan perbandingan 1:1.

“Perubahan pola tanam mulai terjadi sejak beroperasinya Waduk Kedung Ombo. Lahan yang tadinya kering dan dimanfaatkan untuk mengelola tanaman sorgum beralih ke pertanian pangan modern yakni padi yang memang memerlukan ketersediaan air melimpah,” kata Joni, ditemui disela sela pameran produk sorgum di Desa Jatisono, Kecamatan Gajah, dalam rangka pencanangan Bulan Eliminasi Kaki Gajah tahun 2017 yang dihadiri Menteri Kesehatan RI Nila Farid Moeloek dan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo.

Menurutnya, kini areal pertanian Sorgum di Kabupaten Demak tinggal terpusat di Desa Raji Kecamatan Demak Kota, itupun hanya seluas 75 hektare.

Diharapkan dalam dua tahun ke depan ada peningkatan menu makan berbahan dasar sorgum di seluruh wilayah Kabupaten Demak.

Langkah nyata yang diambil oleh pihak pemkab Demak dengan dukungan Balitbangtan-Kementan RI untuk mewujudkannya yakni dengan membangun Grand Design “Pengembangan Kawasan Percepatan Diversifikasi Pangan Berbasis Sorgum”.

Implementasinya, antara lain dengan pengadaan unit penyosoh dan penepung sorgum di Desa Raji, Kecamatan Demak Kota, inisiasi pembentukan kelompok usaha pengolahan sorgum, dengan cakupan usaha meliputi berasan sorgum, tepung, mie basah/mie kering, dan bakso (penthol) sorgum, kemudian akan diikuti dengan beberapa tahap lanjut ke depan.

“Peningkatan peran sorgum ini berorientasi pada aspek kesehatan dan mendorong konsumsi yang beragam dan menuju pencapaian kedaulatan pangan,” ujarnya.

Dari segi kesehatan, sorgum bisa menjadi referensi bagi nutrisi sehat, sebab
berdasarkan penelitian Balitbangtan menunjukkan bahwa nasi beras mempunyai Index Glikemik yang tinggi (lebih dari 70), sedangkan sorgum hanya sebesar 41, jauh lebih rendah dibanding nasi.

Index Glikemik adalah nilai laju konversi karbohidrat (pati) menjadi gula dalam tubuh manusia. Makin tinggi nilainya, makin cepat proses konversi tersebut.

“Diharapkan masyarakat bisa meminimalisir terkena Diabetes Melitus jika rajin memgonsumsi sorgum dibandingkan jika sehari hari makan nasi,” pungkasnya. (Bj/EL)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here