Home Nasional Baksos IAD Kejagung RI, 459 Perempuan Banyumas Ikut Pengobatan Gratis Kanker Serviks

Baksos IAD Kejagung RI, 459 Perempuan Banyumas Ikut Pengobatan Gratis Kanker Serviks

DSCN5839
Ketua IAD Kejagung RI, Ros Ellyana Prasetyo dimapingi Ketua IAD Kejati Jateng Endang Hartadi menggelar pertemuan konsultasi pengurus daerah dan cabang se-Jateng di kantor Kejari Purwokerto, Purwokerto Jawa Tengah Kamis (17/9). Sebelumnya, sebanyak 450 perempuan di Kabupaten Banyumas menerima pemeriksaan dan pengobatan secara gratis IVA untuk pencegahan kanker leher rahim (serviks).

Purwokerto, 17/9 (BeritaJateng.net) – Sebanyak 450 perempuan di wilayah Kabupaten Banyumas dan sekitarnya menerima pemeriksaan dan pengobatan secara gratis Inspeksi Visual Asam (IVA) untuk pencegahan kanker leher rahim (serviks), di Balai Kelurahan Sokanegara Purwokerto, Jawa Tengah, Kamis (17/9),

Kegiatan tersebut difasilitasi Ikatan Adhyaksa Dharmakarini (IAD) Kejaksaan Agung, Kejati Jateng.

Kejari Purwokerto  bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK Kelurahan Sokanegara dan Rotary Club Purwokerto hadir pula, Kajati Jateng Hartadi, Asintel Kejati Jateng J Hendrik Pattipeilohy.

Usai acara dilanjutkan pertemuan konsultasi pengurus daerah dan cabang se-Jateng di kantor Kejari Purwokerto.

Ketua IAD Kejagung RI, Ros Ellyana Prasetyo, saat membuka acara mengatakan,  kegiatan pengabdian masyarakat IAD ini, dalam rangka membantu program pemerintah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat khususnya kaum perempuan.

“Kegiatan bakti sosial ini merupakan implementasi dari program kerja IAD dalam meningkatkan  kepedulian sosial kepada anggota dan masyarakat luas,” katanya.

Dia mengungkapkan, data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), menyebutkan, penyakit kamker leher  rahim (Serviks) saat ini menduduki peringkat teratas di antara berbagai jenis kanker yang menyebabkan  kematian pada perempuan di dunia.

Menurutnya, berdasar data yang ada, di Indonesia setiap tahun terdeteksi lebih dari 15 ribu kasus serviks dan sekitar 8.000 kasus berakhir dengan kematian. Dengan data tersebut, maka tak heran jika Indonesia menjadi negara dengan jumlah penderita Serviks tertinggi di dunia.

“Saat ini kanker serviks merupakan salah satu penyebab uatama kematian akibat kanker di Indonesia.  Sekitar 80 persen perempuan terinfeksi HPV yang dapat menyebabkan kanker. Kegaiatan baksos ini akan rutin kita laksanakan karena penting untuk deteksi dini kesehatan kaum perempuan,” katanya.

Ketua IAD Kejati Jateng Endang Hartadi mengatakan, kegiatan yang mengangkat tema besar  “Hargailah kesehatan sekecil apa pun, karena sehat itu berharga” tersebut, tidak dipungut biaya sama sekali. Pesertanya terdiri, sekitar 200 berasal dari anggota IAD di wilayah kejaksaan di eks Karisidenan Banyumas dan, sekitar 250 dari warga masyarakat.

“Kita berharap dengan kegiatan pemeriksaan gratis khusus cegah penyakit kanker serviks ini, akan semakin banyak perempuan yang terselamatkan dari penyakit berbahaya dan ancaman kematian,” kata  Endang, saat memberikan sambutan di pertemuan konsultasi IAD.

Sementara itu, dr Toni Moerdijat SPog , tim medis yang menjadi penanggung jawab pemeriksaan cegah kanker serviks gratis mengatakan, upaya pencegahan skunder dengan metode IVA dilakukan  agar dapat segera diketahui potensi munculnya kanker serviks pada seseorang. Sehingga bisa ditentukan dan dilakukan penanganannya.

Berdasarkan pengalamannya menangani kanker Serviks di Banyumas sejak tahun 2005, dari sekitar 80 ribu telah diperiksa, ada sekitar 20 persen yang positif kanker. Dengan kata lain, jumlahnya mencapai sekitar 16 ribu penderita.

Menurutnya, potensi penyakit tersebut cukup tinggi.  Sehingga upaya pencegahan secara rutin dan gratis seperti ini perlu dilakukan di semua elemen masyarakat dan instansi pemerintah. Tujuannya untuk membantu menekan  jumlah penderita kanker serviks hingga seperlima dari jumlah yang terdeteksi saat ini.

“Ini kan penyakit kodrat,  maka pencegahannya harus rutin dan berkesinambungan, karena kalau sudah terkena, pengobatannya lebih sulit. Kalau masih dibawah umur 30 tahun, sekitar 80 persen bisa sembuh sendiri, tapi kalau sudah diatas umur itu, kalau sudah terkena, potensi sembuhnya kecil dan ancamannya kematian,” katanya.

Upaya pencegahannya, kata dia, ada lima hal yang perlu diperhatikan. Yakni  tidak melakukan hubungan intim sebelum berusia 20 tahun, membatasi jumlah anak, hindari konsumsi obat-obatan tertentu seperti suntik dan pil KB dan disarankan dengan spiral, tidak berganti pasangan dan menjaga pola hidup sehat dengan tidak merokok dan obat-obatan terlarang.

“Semua kalangan baik muda maupun usia lanjut, semuanya rentan terkena kanker serviks. Tapi secara teori penyakit ini banyak terdektesi pada perempuan dengan usia di atas 30 tahun,” katanya. (Bj)