Home News Update Bahasa Jawa Menyumbang Nilai-Nilai Budaya Nasional

Bahasa Jawa Menyumbang Nilai-Nilai Budaya Nasional

Bahasa Jawa adalah budaya warisan luhur sebagai kebanggaan orang Jawa saja, tetapi juga merupakan kebanggaan bangsa Indonesia. Banyak sumbangsih bahasa Jawa dalam pembentukan nilai-nilai luhur budaya nasional.

Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah No 424.I3242 bertanggal 23 Juli 2013 tentang implementasi muatan lokal bahasa Jawa di Jawa Tengah.

Pengimplementasian Kurikulum 2013 Mulok Bahasa Jawa bertujuan agar peserta didik memiliki kompetensi sebagai berikut: (1) menjaga dan memelihara kelestarian bahasa, sastra, dan aksara Jawa sehingga menjadi faktor penting untuk peneguhan jati diri daerah; (2) menyelaraskan fungsi bahasa, sastra, dan aksara Jawa dalam kehidupan masyarakat sejalan dengan arah pembinaan bahasa Indonesia; (3) mengenali nilai-nilai estetika, etika, moral dan spiritual yang terkandung dalam budaya Jawa untuk didayagunakan sebagai upaya pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional; dan (4) mendayagunakan bahasa, sastra, dan aksara Jawa sebagai wahana untuk pembangunan karakter dan budi pekerti.

Masalah klasik yang sering dialami oleh guru adalah ketuntasan belajar. Ketuntasan belajar ini ditentukan oleh kemampuan setiap siswa untuk menguasai sejumlah kompetensi yang dipelajari.

Semakin tinggi kemampuan siswa menguasai kompetensi yang diharapkan akan semakin tinggi daya serap yang diperoleh. Dalam kenyataannya tidak sedikit siswa yang memiliki kompetensi di bawah standar yang telah ditetapkan.

Pada kenyataan pembelajaran bahasa Jawa di lapangan banyak keluhan yang disampaikan oleh para guru. Keluhan itu mengarah pada pembelajaran bahasa kurang diminati siswa, terutama pada menulis huruf Jawa.

Kendala utama yang dialami siswa adalah tidak hafal huruf-huruf dalam aksara Jawa, sehingga kompetensi menulis kalimat sederhana berhuruf Jawa mengalami hambatan yang serius.Hal ini tentu tidak bisa diabaikan sebab pada Kompetensi Dasar bahasa Jawa tersebut terdapat beberapa KD yang berkaitan dengan menulis huruf Jawa.

Berdasarkan uraian di atas tentu sangat dibutuhkan model pembelajaran dengan media pembelajaran yang menarik dan memudahkan pemahaman siswa.

Berdasarkan pengamatan selama ini salah satu usaha untuk menarik perhatian dan memudahkan pemahaman siswa tersebut adalah media Kartu Bersuara. Pemilihan media ini dengan pertimbangan kartu lebih mengarah pada pengelolaan yang bersifat permainan bahasa.

Penggunaan kartu yang bersifat legena sebab prinsip dasar atau aksara dasar bahasa Jawa adalah legena (belum mendapat sandhangan).

Kartu Bersuara Strategi Game

Pengertian kartu bersuara merujuk pada dua hal yakni kartu dan bersuara. Kartu yang digunakan dalam penelitian ini adalah suatu alat peraga atau media yang digunakan untuk proses belajar mengajar dalam rangka mempermudah atau memperjelas penyampaian materi pembelajaran, sehinga hasil prestasi, pembelajaran lebih menyenangkan dan lebih efektif.

Kartu yang digunakan dalam penelitian ini adalah kartu yang di dalamnya terdapat tulisan atau aksara Jawa Legena. Aksara legena adalah aksara (huruf) Jawa yang masih asli atau belum mendapat sandhangan yang berjumlah 20. a n c r k f t s w l p d j y v m g b q z.

Kartu tersebut terbuat dari kartas tebal berbentuk persegi dengan ukuran kira-kira 10 cm x 10 cm. Di dalamnya terdapat tulisan atau huruf Jawa legena yang ditulis dengan warna yang sesuai pilihan siswa.

Bersuara merujuk pada pelaksanaan penggunaan kartu tersebut. Kartu yang berisi Aksara legena atau aksara yang belum mendapatkan sandhangan dengan demikian belum ada variasi suara vokal (a, i, u, e, o), untuk mendapatkan variasi suara maka perlu sandhangan swara. Untuk mendapatkan sandhangan swara maka penggunaan kartu (siswa) harus bersuara untuk menyebutkan sandhangan swara yang diucapkan siswa.

Secara lebih rinci pelaksanaannya adalah sebagai berikut. Seluruh siswa menata susunan kartu berdasarkan urutan aksara legena di atas meja masing-masing.

Guru menyebutkankan satu kalimat sederhana yang terdiri 3 kata. Siswa memilih kartu legena untuk menyusun kalimat yang disebutkan guru. Bila sudah lengkap kartunya tangan diangkat.

Guru menunjuk siswa yang tercepat. Siswa yang ditunjuk membacakan kartu legena yang telah diambil dengan menyebutkan (menyuarakan) aksara legena sekaligus disertai sandhangannya. Siswa yang lain memperhatikan.

Bila siswa yang ditunjuk jawabannya benar diberikan 1 bintang. Siswa yang telah berhasil mengumpulkan sepuluh bintang diberikan soal pengayaan berupa kalimat latin ditulis ke aksara Jawa.

Berdasarkan pelaksanaan pembelajaran menulis kalimat sederhana berhuruf Jawa dengan media Kartu Bersuara, didapat hasil peningkatan kompetensi menulis kalimat sederhana dengan aksara Jawa.

Hasil tes pada prasiklus menunjukkan nilai rata-rata siswa sebesar 56,00 dengan kategori kurang dan belum mencapai target penelitian yaitu 75.

Setelah dilaksanakan tindakan tahap I, yaitu pembelajaran dengan media Kartu Bersuara, nilai rata-rata siswa mengalami peningkatan menjadi 67,71 atau meningkat sebesar 20,9%.

Hasil tindakan tahap II menunjukkan nilai rata-rata siswa kembali meningkat menjadi 78,14 atau meningkat sebesar 15,40% dari tahap I dengan kategori baik. Kedua, Perilaku siswa mengalami perubahan dari perilaku negatif menjadi perilaku positif.

Berdasarkan hasil data nontes yang meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi, siswa memberikan respon positif terhadap pembelajaran menulis huruf Jawa dengan menggunakan media Kartu Bersuara. Hal ini ditunjukkan dengan perilaku siswa yang lebih tertarik dan bersemangat dalam mengikuti pelajaran.

Perbandingan hasil observasi tahap I dan tahap II menunjukkan secara jelas adanya perubahan perilaku siswa ke arah positif.

Pada aspek pertama, yaitu memperhatikan penjelasan guru dengan sungguh-sungguh tanpa melakukan kegiatan yang tidak perlu (melamun, mengantuk, bersenda gurau, dan mengganggu teman), jika pada siklus I terdapat 20 siswa (57%) yang memperhatikan penjelasan guru maka pada tahap II menjadi 31 siswa (88,57%) sedangkan yang tidak memperhatikan penjelasan guru dengan sungguh-sungguh, jika pada tahap I terdapat 15 siswa (43%) maka pada tahap II menjadi 4 siswa (11,42%).

Guru adalah aktor terdepan dalam proses pendidikan. Berdasarkan hasil penelitian di atas, disarankan Guru bahasa Jawa hendaknya lebih selektif dalam menentukan pengeloaan pembelajaran agar siswa bersemangat dan tidak merasa jenuh dalam mengikuti pelajaran bahasa Jawa. Media Kartu Bersuara dapat meningkatkan kompetensi menulis kalimat sederhana berhuruf Jawa. (*)

Penulis :
Rini Rusmiasih
Guru Bahasa Jawa SMP Negeri 39 Semarang
rinirusmiasih_39@yahoo.co.id