Home Lintas Jateng Awas Hujan Ekstrem Jateng Selatan Desember-Januari

Awas Hujan Ekstrem Jateng Selatan Desember-Januari

Cuaca mendung. (BJ)

Cilacap, 8/12 (Beritajateng.net) – Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Cilacap mengimbau warga Jawa Tengah bagian selatan khususnya Kabupaten Cilacap mewaspadai kemungkinan terjadinya hujan ekstrem pada bulan Desember hingga Januari 2015.

“Hujan ekstrem berpeluang terjadi pada puncak musim hujan yang diprakirakan akan berlangsung pada bulan Desember hingga Januari. Oleh karena itu, warga yang bermukim di wilayah rawan banjir dan longsor diimbau untuk waspada saat terjadi hujan lebat,” kata Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi BMKG Cilacap Teguh Wardoyo, di Cilacap, Senin seperti dikutip Antara.

Ia mengakui bahwa hujan ekstrem sempat terjadi pada akhir bulan November di Kabupaten Kebumen dan Purworejo dengan curah hujan dalam satu hari mencapai di atas 150 milimeter sehingga mengakibatkan banjir dan longsor di Kecamatan Alian, Kebumen.

Akan tetapi untuk Kabupaten Cilacap, kata dia, belum sempat terjadi hujan ekstrem karena di saat banjir melanda Kecamatan Alian, curah hujan harian tertinggi di Cilacap hanya mencapai 93 milimeter.

“Sempat hampir terjadi hujan ektrem karena curah hujannya mencapai 93 milimeter. Saat puncak musim hujan, biasanya ada hujan ekstrem, sehingga masyarakat harus waspada,” tegasnya.

Kendati demikian, dia mengakui bahwa intensitas hujan yang mengguyur Kabupaten Cilacap dalam tiga hari terakhir cenderung ringan hingga sedang.

Menurutnya, hal itu merupakan dampak dari badai Hagupit yang muncul di Filipina.

Dalam hal ini, kata dia, awan-awan hujan yang tumbuh di atas Jateng selatan tersedot ke pusat badai sehingga wilayah itu cenderung terjadi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang.

“Kami prakirakan dalam beberapa hari ke depan, hujan lebat kembali mengguyur wilayah Jateng selatan khususnya Cilacap seiring dengan melemahnya pengaruh badai Hagupit. Apalagi saat ini di sekitar Australia telah muncul ‘low pressure’ atau daerah pusat tekanan rendah,” katanya.

Ia memprakirakan jika pengaruh badai Hagupit melemah dan daerah pusat tekanan rendah di selatan ekuator menguat, hujan dengan intensitas lebat akan kembali mengguyur wilayah Jateng selatan.

Bahkan, kata dia, menguatnya daerah pusat tekanan rendah tersebut akan berdampak pada peningkatan tinggi gelombang di perairan selatan Jateng.

“Saat ini, tinggi gelombang di pantai selatan Jateng mencapai 2 meter sedangkan di wilayah Samudra Hindia selatan Jateng 2,5 meter. Kalau ‘low pressure’-nya menguat, diprakirakan akan terjadi peningkatan tinggi gelombang yang signifikan,” katanya.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Cilacap, dari 24 kecamatan di kabupaten itu, hanya dua kecamatan yang tidak termasuk daerah rawan bencana banjir, yakni Cilacap Utara dan Binangun, 22 kecamatan lainnya masuk daerah rawan bencana banjir.

Sementara untuk daerah rawan longsor tersebar di 14 kecamatan, yakni Kesugihan, Jeruklegi, Kawunganten, Bantarsari, Maos, Sidareja, Gandrungmangu, Karangpucung, Cipari, Majenang, Cimanggu, Wanareja, dan Dayeuhluhur.(ant/pj)