Home News Update Atlet Penyandang Tunagrahita Ikut Pertandingan Sepak Bola Tingkat ASEAN

Atlet Penyandang Tunagrahita Ikut Pertandingan Sepak Bola Tingkat ASEAN

Semarang, 11/12 (BeritaJateng.net) – Anak tunagrahita atau penyandang ‘mental retardation’ memiliki IQ di bawah rata-rata anak normal pada umumnya, sehingga menyebabkan fungsi kecerdasan dan intelektual mereka terganggu serta permasalahan-permasalahan lainnya muncul pada masa perkembangannya.

Namun hal ini tidak berlaku pada prestasi olahraganya, seperti pertandingan Sepak Bola Negara ASEAN Penyandang Tunagrahita bertajuk ‘South East Asia 5a-Side Soccer Unified Games Special Olympics Asia Pacific, SOIna Special Olympic Indonesia 2015’ di Stadion Sepak Bola Undip Tembalang, dari tanggal 11-13 Desember 2015.

Indonesia menjadi tuan rumah dalam pertandingan ini, dan mempercayakannya pada Provinsi Jawa Tengah. Ketua Pengda Jateng, Kristijani Kirana, menjelaskan jika ini pertama kalinya pertandingan putra dan putri penyandang tunagrahita diselenggarakan dalam satu kesempatan.

“Ini pertandingan yang ke-4, karena kemarin pertandingan Putra Jateng di Brunei Darussalam telah mendapat Perak, pertandingan Putri Jateng di Kuala Lumpur mendapat Emas yang merupakan pertandingan ke-3, dan tahun depan pertandingan di Fillipina,” terang Ketua Pengda Jateng tersebut saat ditemui di Stadion Sepak Bola Undip Tembalang, Jumat (11/12) siang.

Pertandingan sepak bola tingkat ASEAN ini diikuti oleh Negara-negara ASEAN seperti Indonesia, Fillipina, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand. Hanya lima negara yang ikut berpartisipasi dalam pertandingan ini karena tidak semua negara membina dengan baik olahraga bagi adik-adik penyandang tunagrahita.

“Harapannya sebenarnya di seluruh dunia sama untuk bergerak mendorong adik-adik tunagrahita bisa mandiri, gembira dan berprestasi sampai tingkat dunia,” ujar Dinpora, Budi Santoso disela-sela tinjauannya di Stadion Sepak bola Undip Tembalang, Jumat (11/12) siang.

Dinpora, Drs. Budi Santoso., M.Si menambahkan jika adik-adik tunagrahita juga mendapatkan reward yang luar biasa di tingkat ASEAN kemarin saat mengikuti Paralympic Games dan mendapat hadiah senilai 100 juta rupiah untuk penyumbang emas.

“Penanganan bagi mereka sangat luar biasa hingga lembaganya menjadi organisasi tingkat dunia yang bisa berkembang dibidang olahraga,” imbuh Budi Santoso.

Tingkat nasional maupun dunia juga ada, lanjut Budi, dan ini sangat luar biasa. Menurutnya, sekarang ini bisa sampai pada tingkat ASEAN merupakan salah satu penghormatan bahwa Jawa Tengah menjadi tempat atlet penyandang tunagrahita ‘ASEAN Paralympic Games’.

Budi mengungkapkan jika pada saat ‘ASEAN Paralympic Games’ di Singapura ada 45 Atlet yang disumbangkan Jawa Tengah untuk tim kontingen Indonesia. Pada tingkat Nasional, pelajar juga mendapat juara sehingga Indonesia menjadi gudangnya atlet untuk Paralympic Games atau penyandang keterbatasan khusus ini.

“Kita tidak memandang keterbatasannya, tetapi memandang dari segi prestasi olahraganya, penanganan dan haknya sama. Untuk dikembangkan sama, di dalam UU Sistem Keolahragaan Nasional juga sama bahwa kita tidak membeda-bedakan atlet normal maupun tidak,” tandasnya.

Pihaknya lebih menekankan pada Semangat Persahabatan ASEAN yang diikuti oleh lima Negara yang selalu dikembangkan tiap tahunnya. Di Jawa Tengah yang mendominasi adalah Atlet Semarang.

“Kita dijadikan tuan rumah sekaligus dipercaya karena sering juara untuk mewakili,” tuturnya.

Budi berharap atlet Paralympic Games semakin berjaya walaupun di Singapura kemarin gagal mempertahankan, setidaknya ke depan optimis bisa menjadi juara pada olahraga apapun.

Budi menilai pertandingan kali ini spesial karena mewadahi atlet-atlet tunagrahita sampai tingkat dunia, dan atlet yang sehat akan termotivasi bercermin dari penyandang tunagrahita.

Dalam pertandingan tersebut ada pembagian laki-laki dan perempuan , 1 tim terdiri dari 5 orang termasuk kiper dengan durasi waktu yang berbeda dan luas lapangan yang berbeda pula.

Tidak jauh berbeda dengan Budi Santoso, Ketua Pengda Jateng, Kristijani Kirana juga berharap pertandingan ini tujuannya bukan untuk mencari pemenang, tetapi penyandang tunagrahita diberi kesempatan untuk mencoba.

“Karena mereka juga bisa seperti atlet yang normal,” tutur Kris.

Kris menjelaskan untuk Jawa Tengah sendiri melibatkan peserta dari Semarang, Temanggung, Magelang, Sragen, dan Solo. Banyaknya relawan yang terlibat dalam pertandingan ini membedakan dengan pertandingan pada umumnya.

“Jika pertandingan normal atletnya 100 hanya membutuhkan 10 panitia, kalau kita atlet 100 maka panitia bisa sampai 100 lebih, 1 tim 2 relawan khusus,” terang Kris.

Kris juga menambahkan untuk Relawan kesehatan pihaknya dibantu oleh Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Undip.

“Tidak ada batasan usia untuk menjadi atlet dengan menyandang tunagrahita. Sekarang ini yang tergabung mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMA,” pungkasnya. (BJT01)