Home News Update Asyiknya Sekolah Alam Ar-Ridho, Mulai Belajar Ilmiah, Enterpreneur Hingga Cinta Lingkungan

Asyiknya Sekolah Alam Ar-Ridho, Mulai Belajar Ilmiah, Enterpreneur Hingga Cinta Lingkungan

3141
0
Belajar keterampilan membatik di sekolah Alam Ar-Ridho

Semarang, 10/4 (BeritaJateng.net) – Proses belajar dekat dengan alam lebih mengasyikkan bagi siswa dalam meningkatkan semangat dan kreativitasnya. Sekolah SMP Alam Ar-Ridho menerapkan kurikulum dinas dan kurikulum khas dalam proses pembelajarannya. Untuk kurikulum khas, ada pembentukan akidah, akhlak mulia, leadership, membentuk jiwa entrepreneurship, budaya ilmiah dan cinta lingkungan.

Kepala Sekolah SMP Alam Ar-Ridho, Susanti, S.Si menjelaskan sejak kelas VII, siswa dibekali open mind bisnis, berkebun, serta budidaya jamur tiram. Sementara untuk kelas VIII dan IX, siswa bebas memilih, entah bisnis kuliner, budidaya lele, budidaya jamur, dll. Sehingga ketika siswa lulus dari Sekolah Alam Ar- Ridho sudah terlatih dalam dirinya baik akidah dan jiwa bisnisnya.

Susanti menambahkan produk bisnis ada 5 jenis, mulai dari produk kerajinan tangan dengan bahan dasar kertas koran bekas, kuliner, budidaya lele, budidaya jamur tiram serta berkebun (agrobisnis). Dijelaskannya model pemasaran produk biasanya lewat bazar dan dilakukan di sekolah, bisa juga melalui media sosial dan langganan.

“Semua hasil karya siswa. Mereka juga hari ini menyiapkan lomba berbasis hobi, seperti membatik pada kipas, cake decoration and space contest. Peserta lomba juga diberi voucher gratis outbond dan memanah,” terang Susanti saat diwawancarai di Sekolah Alam, Minggu (10/4) siang.

Dengan jumlah total 62 siswa dari kelas VII-IX Sekolah Alam menerapkan sistem belajar tidak hanya teori tetapi praktik, belajar dengan konsep metode Contextual Learning Teaching (CTL), serta belajar secara nyata berdasarkan konteksnya. Siswa belajar dengan porsi bisnis lebih banyak, pembagian 70 persen di outdoor dan 30 persen di indoor.

“Belajar mapel bisa diluar. Life skill anak dilihat berdasarkan talentanya. Adapula pembelajaran Sekolah Alam Student Scouting (SASS) meliputi outbond. Sementara life skill bisa dalam bentuk keahlian yang dibutuhkan seperti PBB, memanah, jungle cooking, tali temali dan mentoring. Apapun tanaman yang ada di sekitar sekolah kita manfaatkan,” imbuh Susanti.

Diterangkan Susanti, kegiatan semacam ini lebih mengenalkan kepada masyarakat tentang SMP Alam terkait kegiatan dan metode pembelajarannya. Begitu juga dengan siswa SD kelas 5 dan 6 di Semarang, mereka bisa merasakan secara langsung belajar di sekolah Alam.

Ilham Rabbani, siswa kelas VII sekolah Alam menuturkan bahwa ada 2 jenis bisnis di sekolahnya, yakni agrobisnis dan budidaya jamur. Dikatakannya, dalam satu kelas dibagi menjadi 2 kelompok.

“Saya konsen pada budidaya jamur dengan 1.000 media tanam baru yang sudah ada bibitnya. Untuk mensterilkan medianya bisa dengan cara perebusan dan penguapan. Jamur tiram bisa disemai dengan cara mengambil tubuh jamur dan diputar sehingga tidak ada akar yang tertinggal,” papar Ilham.

Ilham membuat bisnis olahan sate jamur dan dijual di sekolahnya. Ada yang masih segar isi 2 ons dijualnya dengan harga 4 ribu rupiah. Untuk pengolahannya, ia mengaku diajarkan oleh mentornya. Dilihat dari perkembangan penjualan, Ilham mengaku pendapatannya lebih tinggi dari bulan kemarin disebabkan cuaca dan lingkungan yang mendukung.

Satu setengah tahun lebih Ilham diajarkan untuk menjual dengan cara yang benar, dari sisi teknik penjualan dan penawaran. Sebagian olahannya ada juga yang dijual di rumah.

Lain Ilham, Faruq Rakhmat kelas VIII selama satu setengah tahun belajar di Sekolah Alam memilih unit bisnis lele, dream center of catfish (DCC). Ia menjelaskan untuk budidaya lele, air yang digunakan harus dalam batasan normal, tidak boleh berlebihan atau kurang, harus standart.

Begitupun pakan ikannya, dipilih high profit protein dan vitamin. Dari cara menaburkan pakan ikan pun tidak bisa asal-asalan, yakni dengan cara menakar dan mengobservasi gerak-gerik ikan.

Sedangkan untuk tempat pemeliharaan ada di kolam dengan konsep portable. Diterangkan Faruq, banyak juga musuh dari budidaya ikan seperti ular, biawak, kucing, kecebong dan katak.

Diakuinya, bibit lele ia beli dari luar sekolah dengan ukuran bibit 5 cm. Ia juga punya beberapa ekor indukan yang menghasilkan telur seharga 5 ribu rupiah. Harga bisa lebih ekonomis apabila dilakukan dengan cara pemijahan atau perkawinan antar indukan lele.

Faruq juga melakukan penjualan ikan lele segar kepada para pelanggan dan pengolahan ikan lele produk. Produk lele yang paling banyak diminati seperti ‘Namazuyaki’, mengambil konsep Jepang ‘Takoyaki’ yang merubah isiannya dengan ikan lele.

Faruq mengaku mengalami banyak perubahan saat sekolah yang berkonsep bergedung rapat berpindah di sekolah lingkungan berkonsep hijau.

“Enak dan asyik. Bermain sambil belajar lebih masuk karena disini kita memahami filosofinya. Jadi teringat dan lebih paham,” pungkasnya. (BJT01)