Home Hiburan Asyiknya Berselfi Ria di Taman Cinta Talagening

Asyiknya Berselfi Ria di Taman Cinta Talagening

75
0
             Purbalingga, 28/7 (BeritaJateng.net)  – Cinta konon adalah ungkapan emosi dari kasih sayang yang kuat dan rasa tertarik terhadap suatu obyek. Obyek itu bisa saja berupa benda atau lingkungan. Seperti halnya yang dilakukan para pegiat wisata di Desa Talagening, Kecamatan Bobotsari, Purbalingga. Ia mengungkapkan keindahan cinta itu dalam sebuah taman yang disebutnya sebagai Taman Cinta Talagening.
            Sebagai destinasi wisata baru di Purbalingga, taman cinta Talagening memang belum sempurna sekali. Namun, setidaknya, ungkapan cinta bisa dituangkan dalam berbagai foto selfi di obyek wisata yang berada di jalur jalan raya Bobotsari – Karangreja ini. “Daya tarik wisata kami, memang masih sederhana, namun kami ingin memberikan nuansa lain bagi wisatawan khususnya anak-anak muda yang datang ke tempat kami,” kata Kasto, pengelola Taman Cinta Talagening, Jum’at (28/7).
            Di Taman Cinta Talagening, ornamen yang yang disuguhkan semuanya bernuansa cinta atau kasih dengan simbol hati. Mulai dari pernik-pernik yang digantung, bentuk kolam, pijakan ditengah kolam, hingga jalan masuk diantara taman hampir semuanya berbentuk simbol hati. Warnanyapun terlihat cerah, ada merah, kuning, putih, biro, pink dan warna lainnya.
               “Kami ingin menghadirkan nuansa cerah dan ceria kepada wisatawan yang datang. Semua hiasan kami buat menyerupai simbol hati dengan nuansa warna warni, seperti halnya perasaan cinta yang bisa warna-warni,” kata Kasto.
Asyiknya Berselfi Ria di Taman Cinta Talagening
Asyiknya Berselfi Ria di Taman Cinta Talagening

Kasto mengakui, fasilitas di taman wisata Talagening memang masih banyak pembenahan. Maklum saja, karena daya tarik wisata ini baru diluncurkan sehari setelah lebaran bulan Juni lalu. Nantinya, fasilitas taman yang berada di tanah kas desa juga dilengkapi gasebo kecil yang bertebaran di sudut taman, gasebo besar untuk menikmati makanan khas, tempat parkir, MCK dan fasilitas lainnya. “Saat ini, fasilitas parkir memang masih terbatas, namun kami telah bekerjasama dengan pemilik pekarangan disekitar lokasi untuk dijadikan area parkir,” kata Kasto.

              Pengunjung yang datang ke taman cinta Talagening tidak perlu mengeluarkan kocek banyak. Cukup Rp 3.000 per orang sebagai pengganti biaya perawatan. “Tiket masuk ini masih terbilang kecil, karena menyesuaikan fasilitas yang ada. Ibaratnya, pendapatan untuk biaya operasional saja dulu,” kata Kasto yang juga kepala dusun di wilayah taman cinta itu.
              Kepala Desa Talagening Nila Ekawati mengungkapkan, pembuatan taman cinta itu dilandasi semangat warga untuk mengembangkan potensi di desa sebagai tempat wisata. Di Desa Talagening, ada curug yang lumayan besar, kemudian ada danau Nusa Kembangan, dan daya tarik wilayah pedesaan yang berada di kaki gunung Slamet. Beberapa desa tidak jauh dari Talegening juga sudah mengembangkan potensi desa sebagai tempat wisata, seperti halnya Desa Serang, Kecamatan Karangreja, dan Desa Limbasari, Kecamatan Bobotsari.
              “Jalur Bobotsari hampir dilewati oleh wisatawan yang hendak menuju ke Goa Lawa di Karangreja, makanya peluang itu kami tangkap dengan mengembangkan wisata,” katanya.
               Taman Cinta Talagening, lanjut Nila Ekawati, berdiri diatas tanah bengkok seluas 2.000 meter. Lokasi tanah itu meski ditepi jalan raya, namun di sisi kanan dan kirinya sudah merupakan wilayah desa lain. Jika akan dikembangkan, maka harus ke arah sisi Barat di areal persawahan dan kebun warga Talagening. “Dulu lahan itu setiap tahunnya hanya mampu menghasilkan pendapatan Rp 1 juta ke kas desa. Mudah-mudahan dengan dibukanya daya tarik wisata taman cinta ini, pendap[atan ke desa bisa lebih tinggi,” harapnya.
                Petugas tiket di Taman Cinta Talagening, Lutviana mengatakan, pengunjung yang datang kebanyakan pada hari Sabtu dan Minggu. Pada hari-hari itu pengunjung rata-rata per hari sekitar 100 orang. Pendapatan taman cinta selain dari tiket juga dari parkir. Namun untuk parkir karena bekerjasama dengan pemilik lahan, maka ada pembagian pendapatan.
                “Pengunjungnya kebanyakan kalangan remaja. Mereka mesti melakukan foto-foto di setiap sudut taman,” tuturnya. (yit/el)