Home Headline Asosiasi SPA Semarang Siap Terapkan Prokes Berbasis CHSE

Asosiasi SPA Semarang Siap Terapkan Prokes Berbasis CHSE

271

SEMARANG, 27/11 (BeritaJateng.net) – Pelaku usaha SPA yang tergabung dalam Asosiasi SPA Sehat Kota Semarang (Assera) siap menerapkan protokol kesehatan berbasis CHSE untuk meningkatkan kepercayaan pelanggan di tengah pandemi Covid-19.

CHSE merupakan pedoman protokol kesehatan yang diterbitkan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) meliputi Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment (Ramah lingkungan).
Tujuannya untuk meningkatkan upaya pencegahan dan pengendalian Covid-19.

Ketua Assera Kota Semarang, Maria Magdalena Susanti mengatakan, beberapa anggota Assera sebenarnya telah mengikuti panduan protokol kesehatan sejak diberikan izin oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang untuk beroperasi kembali. Panduan CHSE ini semakin melengkapi panduan protokol kesehatan yang sudah ada.

Pihaknya menyatakan telah mematuhi protokol kesehatan dan wajib 3M. Yakni memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak serta memghindari keeumunan.

Diakuinya, biaya operasional yang dikeluarkan tentu semakin tinggi karena harus menyediakan alat protokol kesehatan. Pengelola SPA harus mengusahakan therapis mengunakan APD level dua yakni masker, faceshield, hand glove (sarung tangan), dan baju alat pelindung diri (APD). Selain itu, pengelola juga harus menyediakan hand sanitizer dan disinfektan.

“Kami harus ganti masker setiap satu kali treatment. Begitu juga hand glove, kami pakai hand glove khusus karena kalau pakai hand glove latek itu sangat keras, tidak nyaman dipakai untuk SPA,” jelas Maria, saat menghadiri bimbingan teknis program CHSE bagi pelaku SPA di Horison Nindya, Jumat (27/11/2020).

Menurutnya, perlu ada kesiapan sumber daya manusia (SDM) untuk penerapan CHSE. Edukasi kepada para pengelola SPA sangat penting agar mereka sadar terhadap standar CHSE. Melalui edukasi, semua pelaku usaha SPA bisa bersepakat menyediakan hal-hal sesuai dengan persyaratan.

Di tengah pandemi ini, pelaku usaha SPA tidak boleh hanya memandang dari sisi keuntungan berbisnis saja, melainkan juga harus mengutamakan keamanan therapis dan tamu.

“CHSE perlu banyak waktu untuk disosialisasikan. Selama ini belum jadi habit. Ini salah satu tugas Assera untuk mengedukasi,” katanya.

Di sisi lain, Maria menambahkan, mengedukasi tamu juga menjadi bagian penting. Sejauh ini, masih banyak tamu yang masih enggan mengikuti protokol kesehatan yang diterapkan di SPA.

“Dari sisi tamu tidak gampang. Banyak tamu yang masih sembarangan. Saya berharap lewat edukasi, lambat laun semua bisa memahami bahwa keamanan dan kesehatan sangat penting,” paparnya.

Sementara itu, Narasumber Bimtek CHSE, dr Dewi Rinawati mengatakan, penerapan CHSE sebenarnya mudah. Hanya saja, perlu kedisiplinan diri baik pengelola maupun tamu.

“Orang harus mematuhi. Kendalanya disitu. Kedisiplinan dan mau mengerti bahwa tidak menjalankan protokol kesehatan itu bahaya,” ujarnya.

Selain disiplin menerapkan protokol kesehatan, lanjutnya, durasi waktu SPA harus kurangi. Di tengah pandemi Covid-19, SPA dianjurkan tidak lebih dari satu jam. Apabila terlalu lama kontak, tentu dapat memperbesar kemungkinan penularan.

“Yang perlu diperhatikan itu dari pemilik SPA bagaimana menyediakan fasilitas mendukung CHSE dan mau menerangkan kepada karyawannya. Ini agar bisnis bisa tumbuh, kesehatan juga bisa dijaga,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari mendorong para pelaku pariwisata di Kota Semarang untuk mengajukan Program Sertifikasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety & Environment Sustainability).

Pendaftaran sertifikasi CHSE dilakukan secara online di laman chse.kemenparekraf.go.id dan melakukan pengisian formulir identitas usaha.

Program sertifikasi CHSE ini sebagai strategi menghadapi masa adaptasi kebiasaan baru di dunia pariwisata.

Menurutnya, kunci sukses membangkitkan dunia pariwisata yaitu dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat di setiap sektor wisata. Hal itu akan menciptakan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan.

“CHSE ini untuk membuat rasa pede pengelola industri. Kepercayaan itu nomor satu. Pengelola industri pariwisata harus berusaha membuat orang percaya dan aman,” terang Iin, sapaan akrabnya, usai memberikan bimbingan teknis program CHSE bagi pegiat wisata di Hotel Grasia, Selasa (24/11/2020) lalu.

Disbudpar Kota Semarang sendiri menggelar bimbingan teknis program lenerapan CHSE di 35 titik.

Iin melibatkan para pelaku wisata dari berbagai sektor agar mereka bisa segera daptasi kebiasaan baru dalam mengelola sektor wisata dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. (El)