Home Kesehatan Artis Senior Menjadi Pembicara Seminar

Artis Senior Menjadi Pembicara Seminar

1193

Semarang, 21/12 (BeritaJateng.net) – Soft skill harus dimiliki oleh tenaga kesehatan, tidak melulu pada hard skill. Mereka tidak perlu menjadi orang yang diidolakan, akan tetapi menjadi orang yang menginspirasi. Berdasarkan Penelitian dari Harvard University, untuk dapat menjadi pegawai atau pemimpin, tes yang pertama kali dilihat adalah soft skill.

Bagaimana cara berkomunikasi dan berpenampilan itu menjadi suatu hal yang sangat penting. Hal inilah yang disampaikan oleh Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan (FIKES), Edy Soesanto., S.Kp., M.Kes saat membuka Seminar Nasional dan Workshop dengan tema ‘Optimalisasi Kepribadian dan Penampilan Sebagai Pendukung Soft Skill Tenaga Kesehatan’ oleh Program Studi S1 Keperawatan Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) di Ruang 408 Gedung NRC, Unimus Jalan Kedungmundu Raya No. 18 Semarang, Senin (21/12).

Menurut Edy, yang membedakan softskill satu orang dan lainnya bisa dilihat dari penampilan dan cara berkomunikasinya.

“Kita akan mendapat banyak manfaat dari kegiatan seminar dan workshop ini. Kegiatan yang dimotori oleh mahasiswa S1 Keperawatan ini juga dapat mengoptimalkan kepribadian dan penampilan dalam rangka hari Ibu. Ini sangat menginspirasi,” ujarnya kepada sedikitnya 100 peserta yang hadir.

Sebelum seminar dan workshop dibuka, adapula penampilan Tari Gambang Semarang dari empat mahasiswa untuk memeriahkan acara.

Dr. Ns. Sri Rejeki, M.Kep.Sp. Mat selaku narasumber, dalam materinya menyampaikan bahwa perawat tidak boleh sembarangan mengajak mengobrol saat merawat pasien.

Sri mencontohkan pada penduduk negara Jepang dan Korea yang luar biasa produktif dalam berperilaku. Tidurnya tidak seperti penduduk Indonesia, di Jepang cukup tiga jam, itu untuk keperluan oksigen sudah mencukupi.

“Di negara Jepang dan Korea perilaku sehari-hari waktunya digunakan untuk aktivitas dan membaca,” terang Sri.

Sri mengatakan apa yang diberikan Allah kepada manusia harus disyukuri dengan mengoptimalkan apa yang dimiliki. Berkaitan dengan tuntutan layanan kesehatan yang berkualitas sebagai lahan, baik puskesmas, rumah sakit, dalam memberikan pelayanan juga harus mengikuti perkembangan.

“Fokusnya ada pada pelayanan pasien, memahami apa yang diharapkan pasien, harus tahu siapa pasien dan bagaimana karakternya,” imbuhnya.

Berpenampilan prima, jika penampilan kita baik, orang juga senang dan ini menunjukkan kepribadian.

“Pelayanan diberikan secara prima, berupa pelayanan pada pasien. Dalam hal ini perawat harus menjadi tenaga profesional, mandiri dalam memberikan pelayanan kesehatan pada pasien,” tuturnya.

Lanjut Sri, kepribadian juga bisa dilihat dari rumah mulai ruang dapur, kamar mandi, hingga ruang tidur, itu semua menunjukkan kebersihan dan kepribadian dari sisi psikologi sang pemilik.

Profesional artinya perawat harus menguasai kompetensi dan softskill dalam pengembangannya. Hal ini merupakan perangkat yang harus dimiliki tenaga kesehatan.

Begitupun tenaga kebidanan, mereka memiliki tugas persalinan dan sangat berat. Kadang sering kurang mengontrol diri dalam berkata, komunikasi tidak boleh sembarang mengobrol, apalagi keluar kata-kata buruk.

“Terbiasalah sebagai tenaga kesehatan untuk mengatur segala gerak-gerik kita, berkatalah yang baik atau diam. Semua perkataan ditujukan untuk terapetik,” tegasnya kepada seluruh mahasiswa yang hadir.

Sri menerangkan ada 4 hal yang menjadi kesuksesan di dunia kerja, diantaranya soft skill, networking, competence, dan financial. Selain itu ada 5 point yang juga membuat orang sukses, yakni kemampuan dalam berkomunikasi, ini sangat penting dan perlu dikembangkan.

“Perlu diingat, dalam tubuh kita juga dapat menginspirasi orang lain. Semua dimulai dari diri sendiri. Rencanakan dengan baik masa depan sehingga mampu untuk berpikir secara analitik,” ujarnya.

Sementara itu, seorang Artis Senior Indonesia sekaligus Pakar Pengembangan Diri, Fasilitator Etiket, Grooming & Body Language, Ayu Dyah Pasha yang hadir sebagai narasumber utama dalam seminar tersebut menjelaskan kepribadian merupakan sesuatu yang unik, memiliki ciri khas, dan karakter.

“Diri kita sendiri ini adalah guru, menjadi lilin bagi yang lain. Setiap rumah adalah sekolah,” ujar artis senior ini.

Ayu menceritakan bahwa dalam kehidupannya, secara fisik sudah tidak bisa tumbuh lagi. Namun, yang ia inginkan masih bisa bertumbuh secara ‘inner beauty’.

Ayu juga bercerita tentang gadis sabun pada tahun 90-an, mereka adalah anak-anak perempuan yang ingin menjadi model sabun. Gadis-gadis tersebut tersebut disuruh membuka baju hingga telanjang. Ayu menekankan kepribadian bisa digoda, godaan datangnya setiap saat.

“Kita adalah calon-calon profesional. ‘Personal branding’ akan rusak, manakala kita dikenal sebagai orang yang emosional,” terangnya.

Setiap orang mempunyai sifat dan karakter yang berbeda. Setiap orang juga memiliki kemampuan dalam berorganisasi. Akan lebih efisien bila dilakukan dengan bekerja sama. Lanjut Ayu, salah satunya pemimpin yang bisa mencontohkan hal baik.

“Masing-masing orang punya peluang untuk eksis. Namun eksis dengan cara yang elegan, dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan,” tuturnya.

Ayu mencontohkan, salah satunya dengan membiasakan menepati janji. Kepribadian merupakan sesuatu yang dinamis. Pengembangan kepribadian juga hasil dari lingkungan sosial budaya.

Menurutnya, penampilan menunjukkan citra diri seseorang. Busana bisa berbicara, tanpa orang harus mengenal terlebih dahulu.

“Kepribadian menarik karena bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan dan bisa mengendalikan diri dengan baik. Mengontrol emosi adalah proses membuat diri semakin bijak. Artinya, kita bisa terlihat bersinar dengan cara yang elegan,” jelasnya.

Pada sesi penutupan seminar, Ayu juga berkesempatan memutarkan sebuah film yang bercerita tentang penampilan. Dalam film tersebut dikisahkan penilaian banyak orang terhadap orang yang belum dikenal hanya dengan baju yang dikenakan dan ekspresinya. Luar biasa, pendapat orang bisa berubah hanya karena melihat penampilan. (BJT01)