Home Life Style Arsitek Sampah, Ubah Limbah Plastik jadi Gaun dan Rompi

Arsitek Sampah, Ubah Limbah Plastik jadi Gaun dan Rompi

9105
0
Atikah dengan baju 'sampah' plastik buatannya

 

Semarang, 25/2 (BeritaJateng.net) – Sampah saat ini memang menjadi persoalan tersendiri bagi Kota Semarang dan beberapa kota lain. Selain bisa merusak keindahan kota, persoalan sampah ternyata juga menjadi salah satu sebab yang memperparah banjir di Kota Semarang. Sumbatan sampah yang masuk ke saluran air menutup lubang sedot pompa di beberapa kolam retensi. Akibatnya kinerja pompa tak maksimal, dan akhirnya kawasan sekitar tergenang banjir.

Pemkot Semarang pun mengaku kewalahan mengangkat sampah-sampah karena jumlahnya sangat banyak, khususnya sampah plastik.

Bahkan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dalam beberapa kesempatan selalu berpesan kepada para lurah untuk melibatkan PKK serta terus mengajak warganya mengurangi penggunaan “tas kresek” atau tas plastik. Hal ini sangat perlu dilakukan mengingat tas plastik baru bisa hancur secara alami setelah 300 tahun.

Didasari keresahan ini, seorang ibu muda yang tiap hari bekerja sebagai penjual makanan ringan di kawasan Pemkot Semarang, Atikah membuat inovasi untuk memanfaatkan sampah plastik menjadi barang berguna. Maka untuk itu, sejak beberapa bulan lalu ibu empat anak ini, di sela rutinitasnya menjajakan makanan ringan di kantor-kantor, juga membuat kerajinan tangan berbahan tas plastik bekas.

”Saat ini saya sudah membuat beberapa kerajinan seperti gaun, tas, kantong handphone, dan rompi. Bahannya dari platik bekas yang saya dapat dari tempat sampah,” kata wanita yang kini menempati rumah kerabatnya di Kelurahan Lerep, Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten Semarang.

Diakuinya, inovasi ini muncul karena desakan ekonomi keluarga. Dengan penghasilan sekitar Rp 500 ribu/bulan sebagai penjual makanan ringan dari kantor ke kantor, Atikah harus menghidupi empat anaknya, yang di antaranya masih balita. Apalagi sejak masih muda dirinya memang hobi menyulam. Dengan ketrampilannya menyulam, Atikah kemudian berinovasi mengganti bahan dasar benang dengan plastik bekas. Saat mencoba pertama kali membuat gaun anak dengan kantung plastik bekas, dirinya sempat mengalami kesulitan secara teknis. Karena memang biasanya dia menyulam menggunakan benang dan belum pernah menggunakan plastik.

”Saat pertama membuat, satu gaun anak saja membutuhkan waktu hingga satu bulan. Menyelesaikan satu gaun itu butuh kira-kira 100an kantung plastik bekas. Alat yang dibutuhkan pun sederhana, hanya kapas, minyak goreng bekas, botol bekas, gunting, korek, dan hak pen,” kata wanita yang lahir di Salatiga, 18 Januari 1978 ini.

Setelah selesai membuat satu gaun, dirinya kemudian mencoba membuat tudung saji, tas, kantong HP, rompi, baju, dan lainnya. Meski telah menghasilkan beberapa karya, Atikah mengaku belum berfikir untuk menjual hasil kreasinya itu. ”Karena memang belum banyak yang tahu tentang hasil kerajinan ini, jadi belum ada yang menawar,” katanya sambil tersenyum malu.

Atas kreasinya itu, di kampungnya Atikah dijuluki arsitek sampah karena kegemarannya mengotak-ngatik keterampilan menggunakan bahan dasar sampah.

”Selama ini belum dijual, masih memproduksi saja. Jika ada yang tertarik ya mungkin saya akan menerima pesanan,” tandas Atikah, yang memiliki cita-cita membuat butik khsusus untuk pengelolaan limbah plastik. (Bj)