Home Headline Api Misterius Teror Warga Semarang, Rumah Kakak Beradik Ludes Terbakar

Api Misterius Teror Warga Semarang, Rumah Kakak Beradik Ludes Terbakar

 

Semarang, 20/2 (BeritaJateng.net) – Satu lagi  peristiwa mistik terjadi di Kampung Jangli Tlawah Gang III No. 23 RT 006 RW 005, Candisari, Semarang. Warga di kawasan tersebut tengah mendapat “teror” dari api misterius yang muncul secara tiba-tiba dan tak terduga.

Ada tiga keluarga yang masih memiliki hubungan kakak beradik yang mendapat teror dari api misterius itu. Bahkan, kemunculan api itu sempat membuat rumah dan perabotan di ketiga rumah itu mengalami kebakaran yang cukup besar.

Salah satu pemilik rumah, Kastari (56) mengaku kemunculan api itu kali pertama terjadi sekitar dua bulan lalu. Namun, saat itu api itu mampu diredakan karena skalanya kecil.

“Awalnya cuma berbentuk titik api, tapi kalau dibiarkan bisa membesar. Nah, pas pekan kemarin rumah kami dalam kondisi kosong karena semuanya sibuk bekerja sehingga api membesar dan membakar perabotan kami,” ujar Kastari saat dihubungi BeritaJateng.net.

Semenjak kebakaran pekan lalu itu, intensitas kemunculan api misterius itu semakin sering. Pada Kamis (18/2/2016) kemarin, api bahkan muncul sebanyak 20 kali di berbagai ruangan.

“Enggak tahu. Pokoknya api itu bisa muncul di perabotan yang kami letakkan. Mau diletakkan di mana saja, pasti apinya bisa muncul,” imbuh Kastari.

Kastari mengaku bingung dengan kejadian ini. Ia mengaku sudah meminta bantuan beberapa paranormal untuk mendeteksi penyebab kemunculan api misterius itu.

Bahkan, pihak kepolisian resort (Polsek) Candisari maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang pun sempat mengunjungi lokasi kejadian. Namun, hingga kini belum diketahui secara pasti penyebab kemunculan api itu.

Munculnya api misterius ini pun membuat warga sekitar waswas. Mereka khawatir jika api misterius itu bisa menyebabkan kebakaran yang lebih besar. Oleh karena itu, mereka pun memilih untuk berjaga-jaga di rumah Kastari.

“Kami takut api itu sewaktu-waktu membesar. Makanya, kami memilih berjaga di sini,” imbuh Nining Sukasih, 54 tahun. (Bj)