Home Headline Antrian KIA Semarang Capai 16 Ribu Anak Akibat Kekurangan Mesin Pencetak

Antrian KIA Semarang Capai 16 Ribu Anak Akibat Kekurangan Mesin Pencetak

1038
0
Adi Tri Hananto. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Semarang.
       Semarang, 2/8 (BeritaJateng.net) – Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Adi Tri Hananto mengungkapkan, jika saat ini proses pembuatan Kartu Identitas Anak (KIA), khususnya untuk anak-anak Kota Semarang di Kantor Dispendukcapil Kota Semarang mengalami kendala.
        Kendala tersebut berupa minimnya kapasitas dan kemampuan mesin cetak yang tidak memadahi karena kapasitas mesin cetaknya hanya mampu mencetak sebanyak 400 KIA sehari. Sementara, sampai sekarang ada sebanyak 16 ribuan pemohon KIA yang mengantri proses pembuatan KIA.
         “KIA Jumlah totalnya fluktuatif, bahkan cenderung kapasitas kami kurang. Pemohon kami sekarang yang menunggu antrian sudah 16 ribuan (anak). Mesin cetak kami kemampuanya hanya mencetak sebanyak 400 KIA sehari. Jadi ini bisa panjang sekali,” tegas Adi Tri Hananto di Kantor Balai Kota Jalan Pemuda, Kota Semarang.
       Maka dari itu, Adi menyatakan pihaknya akan melakukan upaya dan langkah untuk menambah jumlah mesin cetak yang dimiliki oleh Kantor Dispendukcapil Kota Semarang supaya proses pembuatan KIA bisa lebih dipercepat. Meskipun sampai saat ini dirinya mengaku masih belum mengetahui anggaran darimanakah pengadaan mesin cetak KIA itu.
        “Maka kami akan berupaya untuk melakukan penambahan mesin-mesin cetak. Kalau anggaran nanti tidak ada, mungkin nanti saya akan cari-cari kemana lah,” akunya.
       Adi juga menjelaskan, jika ada sebanyak 400 ribuan anak yang berusia dibawah 17 tahun di Kota Semarang yang harus dan wajib memiliki KIA yang telah diprogramkan oleh Pemerintah Pusat pada pertengahan tahun 2017 tahun yang lalu itu. Namun, dari total anak yang harus memiliki KIA itu hanya sebanyak 3 sampai 4 persen anak Kota Semarang yang sudah memiliki KIA.
         “Kalau yang wajib KIA itu di Semarang sudah 400 ribuan lebih untuk usia 17 tahun ke bawah. Ini masih sekitar baru 3 atau 4 persen. Saya kira itu karena kemampuan cetak kami butuh pembenahan juga justru problemnya di kami karena kita harus menyelesaikan yang 16 ribu. Itu saja butuh waktu sebulan untuk meyelesaikanya,” terangnya.
         Untuk memudahkan dan mempercepat proses pembuatan KIA, selain akan menambah jumla mesin cetak, pihaknya juga membuka layanan pengaduan untuk masyarakat Kota Semarang pemohon KIA maupun surat kependudukan yang lain melalui call center atau via whatsup (WA).
         “Saya buka layanan WA di 085641604903. disitu bisa ditanyakan apa saja, termasuk untuk KIA. Termasuk misalnya, Surket (Surat Keterangan) di warga, saya sudah sekian tahun kok nggak jadi-jadi,?ungkap Adi Tri hananto.
         Dengan adanya layanan call center atau via WA tersebut, Adi berharap tidak akan ada antrian panjang di Kecamatan maupun di Kantor Dispendukcapil karena sudah dilayani via call center dan WA.
         “(Masyarakat) Tidak perlu wira-wiri di Dispendukcapil di Kecamatan maupun di Dinas, cukup di WA akan direspon. Karena ini memang ada problem kami, kami percetakan ada yang terlewat, ada yang sudah bertahun-tahun belum clear, kan gitu yah. Nanti akan kami respon bagaimana masing-masing persoalanya (pemohon),” ujarnya.
         Adi menambahkan jika pentingnya anak dibawah usia 17 tahun memiliki KIA karena sebagai kartu identitas yang akan sering digunakan sebagai berbagai macam persyaratan dan keperluan yang menyangkut kepentingan anak seperti sekolah, menabung di bank serta membeli tiket pesawat maupun kapal saat anak bepergian bersama orang tuanya maupun tidak.
        “KIA itu identitas anak, itu mewakili identitas yang selama ini dibutuhkan. Sekarang, ini mobilitas anak kita sudah tidak seperti dulu lagi. Sekarang anak kelas 6 SD, kelas 5 SD, naik pesawat, ke rumah eyangnya, ke rumah saudaranya dan aktifitas lain. Kalau dulu ikut orangtuanya, lha kalau sekarang sudah nggak. Bisa untuk pesan tiket pesawat, tiket kapal, untuk membuka rekening bank,” pungkas Adi. (El)