Home News Update Angkat Potensi Daerah, Ita Usulkan Gerakan Pakai Batik Semarangan

Angkat Potensi Daerah, Ita Usulkan Gerakan Pakai Batik Semarangan

Calon wakil wali kota Semarang saat belajar membatik motif khas Semarangan di kampung Batik Semarang
Calon wakil wali kota Semarang saat belajar membatik motif khas Semarangan di kampung Batik Semarang
Calon wakil wali kota Semarang saat belajar membatik motif khas Semarangan di kampung Batik Semarang

Semarang, 12/9 (BeritaJateng.net) – Banyak potensi dan hasil karya kota Semarang yang belum dilirik warga masyarakatnya, seperti salah satunya batik Semarangan. Batik khas Semarang bisa terkenal seperti batik dari kota lain jika masyarakat gemar memakainya.

Hal inilah yang melatarbelakangi calon wakil wali kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu berkeinginan mengusulkan adanya Gerakan Memakai Batik Semarangan untuk mendukung pemasaran batik di kota ini.

“Kalau memang mau memajukan batik Semarangan, masyarakat harus gemar memakai batik Semarang. Bukan hanya batik dari Jogja, Solo, atau Pekalongan,” ungkap Ita, sapaan akrab Hevearita.

Hal tersebut diungkapkan calon wakil wali kota nomor urut dua ini usai berkunjung ke Kampung Batik Semarang di kawasan Bubakan, Jumat (11/9).

Dia mencontohkan para Pegawai Negeri Sipil (PNS) di hari-hari tertentu sudah diwajibkan berbusana batik. Begitu juga beberapa sekolah yang mewajibkan siswanya memakai seragam batik sehari dalam seminggu.

“Mengapa tidak memakai batik Semarangan. Itu dampaknya akan luar biasa bagi para pengrajin batik,” kata pasangan Calon Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi ini.

P_20150911_101207

Ita berkunjung ke beberapa gerai batik di Kampung Batik Semarang. Diantaranya di Batik Temawon, Batik Pasha, dan Batik Sobokartti di Jalan Dr Cipto. Wanita dengan ciri khas kerudung merah tersebut juga mencoba mencanting batik di salah satu gerai.

Dia menilai kualitas dan motif Batik Semarang tak kalah. Motif seperti buah Asem, klenteng Sam Po Kong, Tugumuda, Lawangsewu, Masjid Agung Jawa Tengah, dan Pengantin Semarangan menurut dia bisa membuat batik Semarang memiliki ciri khas tersendiri.

Hanya saja dia menilai Kampung Batik Semarang perlu dipoles lagi. Diantaranya dengan memasang tetenger di jalan masuk, menyulap showroom batik menjadi lebih bagus, dan menggencarkan publikasi. “Jangan sampai kalah dengan kampung batik di kota lain. Seperti di Laweyan, Solo,” paparnya.

Dikatakan Ita, dengan melakukan sosialisasi, dirinya menjadi tahu apa yang dibutuhkan masyarakat. Sehingga sosialisasi yang dilakukan tak hanya sekedar euforia kampanye.

“Saya mendapat banyak masukan dari masyarakat sehingga nanti tahu bagaimana memajukan Semarang. Tidak mungkin menjadi calon pemimpin tapi tidak tahu permasalahan di masyarakat, katanya. (Bj)