Home Lintas Jateng Anggaran Normalisasi Banjirkanal Timur Diprediksi Mencapai Rp. 1,2 Triliun

Anggaran Normalisasi Banjirkanal Timur Diprediksi Mencapai Rp. 1,2 Triliun

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

Semarang, 8/9 (BeritaJateng.net) – Butuh anggaran dana mencapai Rp. 1,2 triliun untuk dapat melakukan program normalisasi Kali Banjir Kanal Timur Semarang yang mencakup wilayah dari pintu air Pucang Gading hingga muara yang ada di wilayah Semarang Utara.

“Normalisasi Banjirkanal Timur merupakan kebutuhan untuk penanganan terpadu mengatasi persoalan banjir dan pengelolaan air baku. Maka harus dilakukan secara komprehensif, dari hilir hingga hulu,” ujar M Farchan, Kabid Perencanaan Bappeda Kota Semarang, Selasa (8/9).

Melihat anggaran sebesar itu, dimungkinkan proses normalisasi akan dilaksanakan dalam beberapa tahap. Tahap pertama, adalah normalisasi sungai dari jembatan di Jalan Majapahit hingga ke muara (Tambaklorok). Untuk tahap pertama ini dibutuhkan anggaran sekitar Rp 400 hingga Rp 500 miliar. Tahun 2016 nanti, Pemkot Semarang akan menganggarkan dana pendampingan Rp 500 juta. Anggaran itu akan digunakan untuk identifikasi masalah sosial. Termasuk tentang penanganan pemukiman liar di wilayah bantaran.

“Sedangkan Larap dan Amdal menjadi kewenangan pemerintah provinsi. Diharapkan kegiatan fisik tahap pertama bisa dilaksanakan mulai tahun 2017 dan akan dilaksanakan pemerintah pusat,” katanya.

Menurutnya, persoalan di Banjirkanal Timur bukan hanya milik Kota Semarang saja. Mengingat hulu dari kanal tersebut berasal dari wilayah Kabupaten Demak, maka persoalan itu harus ditangani bersama. Karena itu, pihaknya telah mengirim surat ke Pemerintah Provinsi untuk segera menanganinya.

Farchan menjelaskan, apabila pemerintah pusat telah memberi lampu hijau 2017 untuk memulai kegiatan fisik, maka mestinya pemerintah daerah baik kota maupun provinsi segera bersiap.

Proses normalisasi menyeluruh, khusus di Kota Semarang diperkirakan akan melalui empat kecamatan, Tembalang, Semarang Timur, Gayamsari, Semarang Utara. Sedangkan di wilayah muara sendiri, saat ini juga telah ada rencana penataan dengan program Kampung Bahari Tambaklorok.

“Jadi pembangunannya komprehensif. Rabu, 9 September 2015 juga akan dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Koordinasi Kegiatan Kajian Sistem Sungai Dolok-Penggaron dan Desain Kanal Banjir Timur, di Grand Candi Hotel yang dilaksanakan Kementrian PU dan Perumahan Rakyat Direktorat Jendral Sumber Daya Air Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana,” paparnya.

Sebagai informasi, program normalisasi Kali Banjirkanal Timur mendesak untuk dilaksanakan. Hal itu untuk mengurangi beban banjir dan rob pada sistem drainase wilayah Semarang tengah. Apalagi saat ini, sedimentasi di sungai Banjirkanal Timur sudah sangat memprihatinkan.

Banjirkanal Barat dan Banjirkanal Timur sendiri merupakan paket solusi mengantisipasi banjir dan rob yang disiapkan Pemerintah Kolonial Belanda pada masa kolonial dulu. Namun, dalam perjalanannya, ada pergeseran dalam pemanfaatan. Pada awalnya kedua drainase induk itu hanya difungsikan sebagai aliran luapan banjir dari Gunung Ungaran ke laut Jawa. Sesuai rencana, kedua sungai itu tak digunakan untuk pembuangan air yang berasal dari dalam Kota Semarang.

Sekarang permasalahan menjadi lebih parah karena Banjirkanal Timur mengalami sedimentasi yang sangat tinggi. Sehingga kapasitas alur sungai menjadi berkurang. Selain itu ada penyempitan bantaran sungai akibat bangunan liar dari jembatan Citarum sampai jembatan Kaligawe. (Bj)