Home Lintas Jateng Ancaman Radikalisme dan Anti Pancasila Ada di Depan Mata

Ancaman Radikalisme dan Anti Pancasila Ada di Depan Mata

90
0
Pelatihan Bela Negara
           Purbalingga, 13/11 (BeritaJateng.net)  – Bupati Purbalingga H Tasdi, SH, MM menegaskan, ancaman terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah di depan mata. Ancaman itu antara lain aksi terorisme, radikalisme, anti Pancasila, dan konflik berlatarbelakang Suku Agama dan Ras antar golongan (SARA). “Ancaman itu harus ditangkal bersama, salah satunya dengan membentuk kader-kader bela negara,” kata Tasdi.
            Bupati tasdi menegaskan hal tersebut saat memberikan pengarahan pada upacara pembukaan pembentukan kader bela negara di kompleks bumi perkemahan Munjuluhur, Desa Bojongsari, Kecamatan Bojongsari, Senin (13/11) sore. Pelatihan bela negara angkatan I tahun 2017 diikuti 270 peserta yang terdiri 224 peserta putra dan 46 putri. Pelatihan angkatan I berlangsung tanggal 13 – 18 November 2017, dan dilanjutkan angkatan II dengan jumlah peserta yang sama mulai tanggal 20 – 25 November 2017.
             Tasdi menegaskan, program bela negara dilakukan karena ancaman ke depan bukan lagi soal perang terbuka. Ancaman bisa datang dari internal dan dari eksternal. Ancaman dengan memasukan paham tertentu yang anti pancasila dan juga adu domba antar sesama warga.
            “Sebagai generasi muda, harus melawan paham radikalisme, dan berani membela Pancasila. Semangat bela negara harus terpateri kuat di dada para pemuda yang akan menjadi masa depan bangsa,” kata Tasdi.
            Bupati Tasdi juga mengungkapkan keprihatinan soal pelaku terorisme yang berasal dari Purbalingga. Ada tiga orang pelaku aksi terorisme ternyata berasal dari Purbalingga.
Pelatihan Bela Negara

“Yang lebih mengerikan lagi, ada beberapa Pegawai negeri Sipil (PNS) yang terlibat gerakan yang melawan Pancasila,” ungkap Tasdi.

            Tasdi meminta kepada para generasi muda untuk terus mengemban semangat perjuangan Jenderal Besar Soedirman. “Jenderal Soedirman rela memimpin perang gerilya ketika sakit sekalipun. Dia tidak menghiraukan rasa sakitnya demi memperjuangkan kemerdekaan. Kini saatnya, para generasi muda harus bersemangat seperti layaknya Jenderal Soedirman. Apalagi, Soedirman lahir dari Purbalingga,” katanya.
            Bupati Tasdi menambahkan, sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (PJMD) tahun 2016 – 2021, salah satu misi yang diemban adalah mengembangkan wawasan kebangsaan. Untuk membangun wawasan kebangsaan, maka diadakan kegiatan pelatihan bela negara. Kabupaten Purbalingga menjadi satu-satunya kabupaten yang menyiapkan kader bela negara, dan telah mendapat apresiasi dari pemerintah pusat. Tahun lalu, telah dilatih 540 orang kader bela negara, namun yang lulus hanya 499 orang. Tahun ini, juga akan dilatih 540 orang, dan diharapkan peserta yang tidak lulus semakin sedikit. Kami meminta pelatih untuk memilih 10 orang peserta terbaik, dan akan mendapat penghargaan,” kata Tasdi.
            Sementara itu Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Drs Muhamad Nadjib, M.Si mengatakan, pelatihan bela negara di setiap angkatan berlangsung selama enam hari. Pelatihan bela negara untuk memperkuat karakter peserta yang cinta tanah air dan memiliki semangat untuk membela negara dari segala ancaman. Materi yang diberikan antara lain wawasan kebangsaan, nasionalisme, kepemimpinan, tata aturan hukum, baris berbaris, anti narkoba, ketenagakerjaan, tata upacara militer dan sejumlah materi lainnya.
            Saat upacara pembukaan dan kegiatan awal, sudah belasan peserta pingsan. Bunyi suara ledakan yang sengaja dibunyikan beberapa kali oleh pelatih, sempat membuat sejumlah peserta kaget. Beberapa diantaranya, ada yang langsung pingsan. Apalagi para peserta diperintahkan untuk berguling-guling diatas ruimput yang berlumpur dan basah akibat hujan. (yit/El)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here