Home Lintas Jateng Aktivitas Penambangan Emas di Sungai Tajur Dihentikan

Aktivitas Penambangan Emas di Sungai Tajur Dihentikan

Penambangan emas
Penambangan emas
Penambangan emas

Banyumas, 7/9 (BeritaJateng.net) – Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Kabupaten Banyumas, Senin (7/9) menghentikan aktivitas penambangan emas yang dilakukan ratusan warga di Sungai Tajur, Desa Pancurendang, Kecamatan Ajibarang. Selain tidak berijin, aktivitas ini juga dikhawatirkan merusak lingkungan.

Kasi Pengawasan dan Konservasi Dinas ESDM Banyumas, Marmono Aji mengatakan,  aktivitas penambangan yang dilakukan warga saat ini sangat membahayakan, karena tidak dilengkapi dengan kelengkapan pengamanan kerja penambangan. Selain itu, juga tidak ada ijin penambangan di kawasan tersebut.

“Aktivitas penambangan tersebut tidak berijin dan berbahaya, sehingga harus ditutup mulai hari ini,” tegasnya.

Menurut Aji, surat teguran untuk penghentian aktivitas penambangan sudah dikirimkan ke pihak-pihak terkait sejak kemarin, seperti pihak desa maupun aparat keamanan setempat.

Sementara itu, salah satu warga Desa Pancurendang yang juga ikut melakukan penambangan di Sungai Tajur, Sudirman mengatakan, sejak hari Minggu (6/9) sore, polisi dan aparat desa sudah datang ke lokasi penambangan dan meminta warga untuk menghentikan aktivitasnya. Petugas juga memperingatkan, bagi warga yang tetap melakukan penambangan akan dikenakan sanksi sesuai aturan, mulai dari denda hingga hukuman kurungan.

“Katanya aktivitas penambangan ini menyebabkan kerusakan lingkungan dan tidak berijin, jadi diminta untuk dihentikan,” tuturnya.

Sebagaimana diketahui kawasan Sungai Tajur di Desa Pancurendang ini mendadak ramai dikunjungi orang sejak pagi hingga malam hari. Ratusan warga ini mencari batu-batuan yang diyakini mengandung emas. Bahkan, ramainya aktivitas warga ini, membuat penambang dari luar Banyumas juga berdatangan. Mereka membeli lahan dan mulai menggali di sekitar sungai. Selain itu, mereka juga membeli batu-batu yang dikumpulkan warga.

Untuk memburu batuan yang diduga mengandung emas tersebut, warga harus berenang di sungai yang kedalamannya 1 sampai 2 meter. Dengan menggunakan linggis, mereka memecang batuan lunak di bawah permukaan air, dan mengumpulkannya dengan menggunakan karung plastik. Sebagian warga ada yang menjual batu hasil buruannya kepada pengepul yang berdatangan.

”Kalau kandungan emas di batuannya tidak terlalu banyak, pengepul hanya membeli dengan harga sekitar Rp 50 ribu per setengah karung. Tapi kalau kandungan emasnya banyak, harganya sampai Rp 1 juta per setengah karung,” kata Sudirman. (BJ33)