Home Ekbis Akik Mahal, Namun Tidak Bisa untuk Investasi

Akik Mahal, Namun Tidak Bisa untuk Investasi

akik

Solo, 3/2 (BeritaJateng.net) – Pasar Cindera mata yang terletak di Alun-alun Utara Kraton Solo nampak di penuhi pengunjung. Boomingnya penjualan batu akik yang saat ini sedang menjadi trend di masyarakat juga melanda warga dan juga sekitarnya.

Batu akik yang sering dibuat cincin ini aslinya bernama batu agate. Namun masyarakat lebih mengenalnya sebagai batu akik. Beragam jenis batu akik bisa ditemukan di pusat penjualan batu akik alun-alun utara.

Suroto, salah satu pedagang yang sudah 20 tahun lebih berjualan aneka batu mulia menyebutkan ada puluhan lapak yang menjual dagangan sejenis, batu akik.

Biasanya mereka mendapat batu tersebut dari penambang. Masih berupa bongkahan batu yang kemudian dipotong-potong dengan mesin pemotong khusus batu lalu melewati proses penggosokan.

“Pembeli kebanyakan laki-laki. Kalau perempuan jarang sekali,” ungkap Suroto di kiosnya, Selasa (3/2/2015).

Mahal tidaknya harga sebuah batu akik ditentukan oleh dua hal yakni kristal dan warna atau motif. Kalau kristal bening, seperti kaca. Untuk yang batu bermotif semakin mahal harganya. Makin susah penambangan batunya membuat harganya semakin mahal.

“Harga batu akik ditawarkan mulai Rp 50 ribuan – jutaan. Sedangkan harga batu yang bermotif bisa mencapai dua puluh kali lipat dari harga normal,” jelasnya.

Ketika ditanyakan rencana pemerintah yang berencana akan mengutip pajak bagi penjualan batu akik yang harganya diatas Rp. 1 juta rupiah, Suroto tidak keberatan. Pasalnya harga batu akik miliknya kebanyakan harganya di bawah Rp. 1 juta rupiah. Hanya jenis tertentu saja yang harganya lumayan mahal.

“Lha monggo saja kalau mau di pajaki. Pembeli batu akik yang harganya mahal pasti orang berduit. Harga batu akik tidak bisa ditentukan. Karena yang mencari jenis batu tersebut kebanyakan kolektor. Jadi kalau dia (pembeli) mencarinya pasti mau bayar meski harganya belasan bahkan puluhan juta,” jelasnya.

Suroto menjual berbagai jenis batu mulia dan akik misalnya Rugbi, Saphir, dan Giok, dan harganya beragam mulai dari Rp. 100 ribu sampai harga jutaan rupiah.

Terpisah Kustawa, salah satu kolektor. batu akik menyebutkan usaha batu akik ini sebenarnya sudah sejak lama ada. Dulu peminatnya adaklah orang yang sudah berumur namun karena ada pergeseran trend maka batu akik jadi terkenal.

“Sehingga orang jadi ikut-ikutan trand termasuk kalangan muda,” terangnya.

Kustawa mengingatkan trend pembelian batu akik mengingatkan pada saat meledaknya bisnis bunga antorium atau Jamani. Banyak orang berlomba-lomba untuk membelinya meskipun harganya kadand tidak masuk di akal sehat.

“Namun untuk bisnis akik ini termasuk bisnis abadi. Peningkatan permintaan batu akik ini terjadi karena munculnya para penghobi batu akik baru,” tegasnya.

Namun meski harganya mahal, namun batu akik bukan jenis yang bisa dijadikan investasi. Karena segmenya terbatas dan mengikuti tren yang ada.

“Berbeda dengan emas atau batu berlian yang sudah diakui internasional,” pungkasnya. (BJ24)