Home Headline Akan Dibongkar, Komunitas Semarang Dokumentasikan Pasar Peterongan

Akan Dibongkar, Komunitas Semarang Dokumentasikan Pasar Peterongan

salah seorang anggota Orart Oret yang mendokumentasikanbangunan bersejarah di Pasar Peterongan
salah seorang anggota Orart Oret yang mendokumentasikanbangunan bersejarah di Pasar Peterongan
salah seorang anggota Orart Oret yang mendokumentasikanbangunan bersejarah di Pasar Peterongan

Semarang, 3/5 (BeritaJateng.net) – Beberapa komunitas seni rupa dan fotografi beramai-ramai mendokumentasikan bangunan asli Pasar Peterongan Semarang di Jalan MT Haryono sebelum dibongkar untuk direvitalisasi, Minggu (3/5) pagi.

Mereka yang ikut ambil bagian dalam acara tersebut antara lain komunitas Orart-Oret Semarang, Komunitas Fotografi Semarang dan Komunitas Pegiat Sejarah Semarang serta pegiat seni dan budaya lainnya.

Dengan cara berbeda, masing-masing komunitas mendokumentasikan bangunan bersejarah Pasar Peterongan yang memiliki nilai-nilai historis. Seperti pohon asem berukuran besar yang telah berusia konon ribuan tahun, nampak pohon ini juga banyak dikunjungi warga yang penasaran dan dipercaya sakral.

Komunitas Orart-oret lebih memilih membuat sketsa bangunan bersejarah di Pasar Peterongan. Sedangkan komunitas lainnya seperti foto dan film, selain menjepret dan merekam bangunan asli juga mengambil mengabadikan gambar tentang aktivitas pedagang di pasar.

Ketua komunitas Orart Oret, Dadang menjelaskan bahwa kegiatan kali ini merupakan serangkaian acara pendokumentasian selama dua minggu dan yang terakhir ada di Pasar Peterongan, karena sebelumnya juga pindah-pindah, ada yang dari Gereja Blenduk, dan Sam Poo Kong.

Ini merupakan gagasan dari partisipan Orart Oret untuk mengabadikan bagian-bagian penting sebelum direvitalisasi. Menurutnya, revitalisasi bukan sepenuhnya membongkar bangunan, akan tetapi memberi tambahan dari bangunan lama ke bangunan yang baru. Hasil dari corat-coret teman-teman itulah, baik berupa foto maupun sketsa yang akan di pamerkan di Orat Oret Art Space tanggal 11 Mei 2015 mendatang.

Salah satu pegiat sejarah Rukardi menyampaikan, proses revitalisasi pasar saat ini sedang  masuk lelang, bahkan sudah selesai akhir pekan lalu, pihaknya berharap proses itu terbuka. Menurutnya proses ini masih ada yang ditutupi dan terkesan dikebut agar proyek ini bisa berjalan.

Rukardi menambahkan, usia bangunan pasar ini ratusan tahun dan merupakan pasar peninggalan Belanda, bahkan lebih tua dari pasar Johar dan Randusari. Tujuannya mendokumentasikan pasar ini jika terjadi hal yang terburuk dimana bangunan pasar hanya disisakan sedikit.

Dia berharap bangunan Pasar Peterongan bisa dipertahankan bagian-bagian yang memiliki historis.

“Namun justru dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah merekomendasikan pembongkaran bangunan ini mereka hanya menyisakan bagian kecil pasar. Yang alasannya secara arsitektural tidak menarik, tapi menurut pandangan kami bahwa bangunan ini memiliki nilai-nilai historisnya, pasar ini adalah penanda perkembangan kota Semarang,” tambahnya.

Dia menjelaskan, jika hal ini hancur kita akan mengulang sejarah kelam pasar Bulu. Pihaknya juga tidak menolak revitalisasi namun bagaimana revitalisasi tidak merusak cagar budaya yang ada.

Semua bagian bangunan akan terkena dampak pembongkaran seharusnya bisa dipertahankan minimal 50 persen dari bangunan asli. Dia menjelaskan dilantai dua ini hanya bagian depan yang tersisa, tengah dan sayap depan akan dibongkar.

“Pemkot beralasan akan rawan roboh. Pemerintah seharusnya bertangungjawab untuk memperkuatnya. Seperti halnya Gedung SI yang hampir rontok,” tegasnya.

Menurutnya, seharusnya revitalisasi harus berkaca dari Pasar Bulu, dimana program Dinas Pasar terkait menejemen pasar tanpa dibarengi dengan pengelolaan pasar yang baik. Sehingga Pasar Bulu yang menghabiskan dana puluhan miliar tapi sekarang kondisinya seperti sekarang untuk itu Dinas Pasar seharusnya memiliki mekanisme pengelolaan menejemen pasar. (Bj05/Mg-1)