Home News Update Agus Sutyoso : Sentra Tahu Tempe Perlu Dukungan Pemerintah

Agus Sutyoso : Sentra Tahu Tempe Perlu Dukungan Pemerintah

1147

PA210162

Semarang, 21/10 (BeritaJateng,net) – Calon Wakil Walikota Semarang Agus Sutyoso lakukan blusukan sosialisasi ke pelaku usaha pengrajin tahu dan tempe di Kelurahan Tandang, Kecamatan Tembalang Semarang, yang menurutnya perlu dukungan dari pemerintah.

Dalam blusukan sosialisasi yang dilakukan calon Wakil Walikota Agus Sutyoso, di lokasi sentra tahu dan tempe, yang selama ini menjadi kebanggaan warga Kota Semarang di Tembalang saat ini terkesan kurang mendapat perhatian.

Berkurangnya hal tersebut, ditunjukan dengan makin berkurangnya jumlah pelaku usaha yang menggeluti bisnis pembuatan lauk pauk tahu dan tempe tersebut.

Dulunya pabrik tahu dan tempe ada sekitar 70 pengrajin. Namun sekarang turun menjadi sekitar 36 pengusaha saja, dimana pengusaha tersebut terbagi menjadi 30 pengusaha tempe dan 6 pengusaha tahu. Dan ini menunjukan penurunan yang sangat drastis.

Agus Sutyoso menerangkan bahwa penurunan jumlah pelaku usaha tahu dan tempe sangat berbalik dibanding dengan kebutuhan pasar yang makin meningkat. Olek karena itu sangat dibutuhkan dukungan dari pemerintah kota dalam pengelolaan usaha lauk pauk ini.

“Sekitar 15 tahun lalu, saya juga terlibat dalam pembangunan pengelolaan Ipal sentra tahu tempe di Tandang. Dan kondisinya saat itu sangat ramai dan usaha tahu tempe memberi banyak pemasukan ekonomi bagi warga. Hal ini perlu dibangkitkan kembali,” ujarnya.

Sementara itu, Warseno, pemilik usaha tahu Eco, dalam kesempatan berdiskusi dengan calon pasangan Wakil Walikota Agus Sutyoso ini, mengaku usaha yang digelutinya sejak tahun 1976 lalu tersebut saat ini mengalami kondisi menurun.

Banyak permasalahan dalam pemenuhan kebutuhan kedelai sebagai bahan dasar pembuat tahu saat ini sulit dicari. Tak hanya sulit, jika ada barangpun kebutuhan uang untuk pembelian sangat mahal. Warseno mengaku dalam sehari dibutuhkan sekitar 10 ton kedelai untuk membuat tahu.

“Selama ini pengrajin mengeluhkan harga kedelai import yang sangat mahal. Ini dipengaruhi harga dolar yang terus melambung naik, sehingga kemampuan modal pengusaha tidak sampai untuk membeli kedelai. Oleh karena itu pengusaha kesulitan bahan baku,” tuturnya.

Warseno berharap kepada Agus Sutyoso, jika terpilih nanti bisa ada campur tangan dinas terkait atas keberlangsungan usaha tahu dan tempe. 

“Selain masalah harga, pengusaha tempe juga kesulitan menanam kedelai, yang saat ini hanya ambil dari Mranggen dan Purwodadi, tapi kadar patinya kurang. Dulu sempat ada program dari pemerintah provinsi terkait penanaman kedelai di Grobogan tapi sayangnya terhentikan,” terangnya.(BJ06)