Home News Update Afthonul Afif : Maaf dan Memaafkan, Aktivitas yang Telah Kehilangan Makna

Afthonul Afif : Maaf dan Memaafkan, Aktivitas yang Telah Kehilangan Makna

Afthonul Afif membedah buki karyanya di halaman UMK Kudus.
Afthonul Afif membedah buki karyanya di halaman UMK Kudus.
Afthonul Afif membedah buki karyanya di halaman UMK Kudus.

Kudus, 12/10 (BeritaJateng.net) – Maaf dan memaafkan, menjadi dua hal yang sangat biasa dalam tradisi dan kehidupan masyarakat. Lantaran menjadi biasa itulah, maka aktivitas maaf dan atau memaafkan pun kemudian seakan kehilangan makna.

Hal itu disampaikan Afthonul Afif dalam bedah buku karyanya berjudul ”Pemaafan, Rekonsiliasi dan Restorative Justice” yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus (UMK) di halaman Gedung Fakultas Psikologi, Senin siang (12/10).

‘’Saya ingin bertanya kepada teman-teman mahasiswa yang hadir dis sini. Berapa sering selama hidup Anda minta maaf atau memaafkan?’’ ujarnya membuka paparan di depan para mahasiswa yang hadir dalam kesempatan tersebut.

Afif memiliki pengalaman mengajar di berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta pun menimpali, bahwa lantaran sering memaafkan atau meminta maaf itulah, sehingga aktivitas ini dipandang sebagai hal biasa.

‘’Karena seringnya kita meminta maaf dan memaafkan itulah, maka kemudian ini kehilangan makna. Jika punya salah, tunggulah Lebaran (Idul Fitri) untuk meminta maaf,’’ paparnya.

Berbagai hal itulah, antara lain yang mengilhaminya menulis buku ”Pemaafan, Rekonsiliasi dan Restorative Justice” ini.

‘’Lebih dari 100 buku saya baca dan bertemu dengan banyak orang untuk berdiskusi, dan baru menulis secara serius supaya menjadi rujukan dalam aktivitas penulisan, khususnya penulisan ilmiah,’’ ungkapnya.

Dari proses panjang nan melelahkan dalam proses penulisan bukunya itu, penulis asal Kudus ini pun memotivasi agar mahasiswa melihat proses sebagai sesuatu yang mesti dijalani dengan suka cita. ‘’Tidak ada yang sia-sia dari proses belajar, meski terkadang tidak ringan,’’ tegasnya.

M. Widjanarko, staf pengajar Fakultas Psikologi UMK yang menjadi pembedah, mengutarakan, bahwa buku yang ditulis oleh Afthonul Afif sangat menarik, karena menghadirkan psikologi tidak parsial.

‘’Ini buku psikologi yang holistik, tidak seperti buku psikologi pada umumnya yang menghadirkan beragam tema secara terpisah,’’ katanya. (Bj)