Home Hukum dan Kriminal Advokat : Farhat Abbas Bukan Pengacara Sah Silvester

Advokat : Farhat Abbas Bukan Pengacara Sah Silvester

Farhat Abbas
Farhat Abbas
Farhat Abbas

Cilacap, 12/3 (BeritaJateng.net) – Advokat Marusaha Sitorus mengatakan, Farhat Abbas bukan pengacara sah terpidana mati kasus narkoba Silvester Obiekwe Nwaolise alias Mustofa yang berkewarganegaraan Nigeria.

“Sampai saat ini, kitalah kuasa yang sah dari Silvester. Jadi yang mengajukan keppres (Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 2015 tentang Penolakan Grasi atas nama Silvester Obiekwe Nwaolise) itu yang sah kita, tidak ada nama Farhat Abbas, yang ada nama Marusaha Sitorus,” katanya di Dermaga Wijayapura, Cilacap, Jawa Tengah, Kamis.

Marusaha mengatakan hal itu kepada wartawan saat hendak menyeberang ke Pulau Nusakambangan guna menemui terpidana mati Silvester Obiekwe Nwaolise yang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Batu.

Ia mengatakan bahwa keppres tentang penolakan grasi atas nama Silvester Obiekwe Nwaolise adalah sah dengan kuasa dan permohonan grasi yang diajukan oleh Marusaha Sitorus.

Akan tetapi, kata dia, Farhat Abbas menyatakan bahwa Keppres itu tidak sah.

“Ini yang mau kita sampaikan pada saudara Farhat Abbas, itu keppres jelas-jelas sah diajukan kuasanya. Ada memang informsi kita dengar, saudara Farhat Abbas mengajukan gugatan ke PTUN terkait keppres itu dengan alasan kuasa yang mengajukan tidak sah. Itu sama sekalu tidak berdasar,” katanya.

Marusaha mencontohkan salah satu bukti yang menunjukkan bahwa dia merupakan pengacara sah Silvester, yakni saat terpidana mati itu tersangkut masalah sehingga harus dibawa ke Jakarta oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) belum lama ini.

“Saat itu, kita juga yang mendampingi sampai pemeriksaan di BNN selesai dan dikembalikan ke lapas, kita yang mendampingi,” jelasnya.

Terkait kedatangannya ke Nusakambangan, dia mengatakan bahwa selain ingin mengetahui kondisi Silvester, pihaknya juga akan menglarifikasi pernyataan Farhat Abbas yang mengaku sebagai pengacara terpidana mati itu.

“Kita ingin menyampaikan dasar apa Farhat Abbas menyampaikan keppres itu tidak sah, apakah dia (Farhat Abbas) pernah bertemu klien kita, apakah diberikan kuasa, itulah yang akan kita pertanyakan,” katanya.

Menurut dia, hal itu akan disampaikan karena hingga saat ini Silvester belum pernah menyampaikan jika terpidana mati tersebut pernah memberikan kuasa kepada Farhat Abbas.

Disinggung mengenai kemungkinan akan mengajukan gugatan ke pengadilan tata usaha negara (PTUN), dia mengatakan bahwa Keppres mengenai penolakan grasi itu merupakan hak prerogatif Presiden Republik Indonesia.

Oleh karena itu, kata dia, grasi itu sah sehingga tidak perlu di-PTUN-kan kalau hanya dengan alasan Farhat Abbas mengatakan bahwa kuasa hukumnya tidak sah.

“Itu (Farhat Abbas) tidak berwenang. Apalagi dengan alasan bahwa Keppres itu diajukan oleh pengacaranya yang tidak sah. Kita jelas menolak itu, bahwa kita adalah pengacara untuk mengajukan permohonan grasi itu yang sah sesuai dengan bukti-bukti surat kuasa dan permohonan grasi kita,” tegasnya.

Ia justru mempertanyakan Farhat Abbas yang mengaku pernah mengajukan permohonan grasi atas nama Silvester Obiekwe Nwaolise.

“Nah, yang kita pertanyakan, ke presiden mana grasi itu diajukan Farhat Abbas karena yang diterima Presiden Republik Indonesia Joko Widodo adalah permohonan grasi kita sesuai dengan penolakannya ini,” kata Marusaha sambil menunjukan salinan penolakan grasi atas nama Silvester Obiekwe Nwaolise.

Disinggung mengenai kemungkinan akan mengajukan peninjauan kembali (PK), dia mengatakan bahwa pihaknya tidak akan mengajukan PK untuk kedua kalinya karena sebelumnya pernah mengajukan PK di Pengadilan Negeri Tangerang, Banten, sebelum grasi.

“Jadi, sesuai SEMA Mahkamah Agung, di PN Tangerang kalau yang sudah pernah PK sampai sekarang belum diterima PK dua kali. Itu makanya kita tidak mohonkan PK,” tegasnya.

Seperti diwartakan, Farhat Abbas mendatangi Lapas Batu, Pulau Nusakambangan, Cilacap, Senin (9/3), guna menemui terpidana mati Silvester Obiekwe Nwaolise alias Mustofa Saat ditemui wartawan, Farhat mengatakan bahwa kedatangannya itu juga dalam rangka untuk menyampaikan kepada kepala lapas dan petugas-petugas yang ada terkait upaya hukum yang dilakukan terpidana mati Silvester.

“Upaya yang ditempuh oleh tim pengacara Silvester, yaitu dengan mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta tentang Keppres Nomor 11 Tahun 2015,” katanya.

Ia mengatakan bahwa surat sudah disampaikan kepada Jaksa Agung dan Presiden.

“Pada Jumat yang lalu, saya sudah ke Kejaksaan Agung, mereka lagi mempelajarinya dan kemungkinan besar akan ditunda eksekusi khusus Silvester,” katanya.

Dari pantauan Antara di Dermaga Wijayapura, kunjungan keluarga untuk narapidana yang mendekam di Lapas Kembangkuning, Lapas Permisan, dan Lapas Pasir Putih, Nusakambangan, pada hari Kamis (12/3), masih berlangsung seperti biasa.

Bahkan, sepupu terpidana mati asal Brasil Rodrigo Gularte, Angelita Aparecida Muxfeldt juga mendatangi Dermaga Wijayapura untuk menuju Lapas Pasir Putih, Nusakambangan.

Demikian pula dengan keluarga terpidana mati Serge Arezki Atlaoui juga tampak mendatangi tempat itu.

Keluarga terpidana mati asal Prancis itu terdiri atas Sabine Megel Atlaoui (istri Serge Arezki Atlaoui), Yasen Areski Atlaoui (anak bungsu Serge), Samia Ans Eliane Atlaoui (anak Serge), dan Alexandre Ferdinand Megel (anak tiri Serge).

Sebelumnya, Serge Arezki Atlaoui dibawa keluar dari Nusakambangan oleh petugas Lapas Pasir Putih dan Brimob Polda Jawa Tengah pada Selasa (10/3) malam untuk menghadiri sidang PK di PN Tangerang pada hari Rabu (11/3).

Setelah menghadiri sidang tersebut, Serge kembali dibawa ke Lapas Pasir Putih dan tiba di Dermaga Wijayapura pada hari Kamis (12/3), sekitar pukul 01.00 WIB, sebelum diseberangkan ke Pulau Nusakambangan. (ant/BJ)

Advertisements