Home News Update Achyani, Dari Operator Layar Tancap hingga Humas Tiga Wali Kota

Achyani, Dari Operator Layar Tancap hingga Humas Tiga Wali Kota

294
0
Foto bersama Achyani dengan Wartawan Balaikota Semarang dan Humas Kota Semarang saat perpisahan purna tugas.
***Amati Media secara Detail, Gunakan Analisa Intelijen
         Semarang, 7/3 (BeritaJateng.net) – Di balik layar dalam mengawal kepemimpinan seorang wali kota. Ada ‘sosok penting’ yang perannya tidak begitu terlihat di mata publik. Tetapi ia menjadi sosok yang bisa dibilang penting untuk menata strategi. Bahkan ia dipercaya mengawal tiga wali kota di Semarang berturut-turut. Seperti apa kisahnya?
       Dia adalah Achyani. Sosok yang selalu murah senyum setiap bertemu siapapun. Bahkan mungkin koleksi nomor kontak di handphone miliknya berjumlah ribuan. Sebab, hal pertama yang ditanya setiap berkenalan dengan seseorang adalah nama dan nomor telepon.
         Ini juga menjadi salah satu bagian dari tugasnya sebagai seorang Kepala Seksi Humas Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang di bawah unit kerja Kantor Informasi dan Telekomunikasi (Infokom).
         Meski terkesan santai, Achyani bukan sosok sembarangan. Sebab, ia menjadi salah satu sosok ‘tersembunyi’ yang turut menata strategi program di balik kepemimpinan Wali Kota Semarang. Bahkan ia dipercaya mengawal tiga Wali Kota berbeda secara berturut-turut. Mulai dari era Wali Kota Soekawi Sutarip (2000-2010), Soemarmo Hadi Saputro (2010-2015) Soemarmo, hingga Hendrar Prihadi (sekarang).
         Rabu (28/2/2018) lalu, menjadi hari terakhir ia bertugas. Suami Rin Ike Ariyani ini purna tugas dengan total waktu mengabdi 38 tahun. Sepanjang perjalanan menjalankan tugas, pria kelahiran, Magelang, 10 Februari 1960 ini memiliki kisah panjang yang tak terlupakan.
         Ia mengawali karier dari tanah kelahirannya. Berbekal ijazah STM Negeri Magelang jurusan listrik, Achyani mengadu nasib dengan memasukkan puluhan lamaran pekerjaan di berbagai perusahaan dan kantor lain. Beruntung, kala itu, ia diterima di Kantor Wilayah Departemen Penerangan (Kanwil Depen) Provinsi Jateng.
          “Pertama kali bertugas di Magelang sebagai Juru Penerangan. Tugasnya memberi penyuluhan masyarakat mengenai program dari pemerintah. Saat itu program sosialisasi KB (Keluarga Berencana). Karena berbekal lulusan STM jurusan listrik, saya diberi tugas sebagai spesialis operator film bioskop layar tancap. Semua peralatan menata sendiri, muter-muter dari kampung ke kampung. Bahkan dalam kondisi hujan,” ungkapnya mengenang.
           Di situlah, ia bersentuhan langsung dengan masyarakat. Memelajari bagaimana memberikan pelayanan yang baik kepada warga. Mengenai berbagai karakteristik masyarakat beragam dan kultur. Mulai dari, kiai, anak muda, seniman, dan lain-lain. “Jiwa kepamongan menjadi kental. Semacam ada kebanggaan bisa melayani masyarakat. Sesorang pamong berjiwa ngemong siapa saja,” katanya.
         Beberapa waktu kemudian, ia mendapat kesempatan melanjutkan sekolah di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Semarang 1984-1988. Setelah lulus masih ditugaskan di Kanwil Depen. Dari Kanwil Departemen Penerangan Provinsi Jateng sempat pindah ke Penerangan Kota Semarang 1990-an. Di situlah berkenalan dengan tokoh penting di Semarang.
         “Pada 1998, Kanwil Depen ini dibubarkan, memasuki era reformasi. Kerja eksistensi, bekerja sendiri dan enggak punya kantor,” katanya.
          Salah satu tokoh berpengaruh saat itu adalah Wali Kota Semarang, Kolonel Purnawirawan Soetrisno Suharto yang menjabat dua kali periode sejak 1990 hingga 2000. “Kowe rak usah rame-rame, ngrewangi bapak, (kamu tidak perlu ikut ramai-ramai, ikut membantu bapak, Red),” katanya.
          Dari situlah, Achyani mulai membantu pelayanan di bawah Pemkot Semarang. “Saat itu era otonomi. Pertama kali ditugaskan sebagai Seklur (Sekretaris Lurah atau Carik Pedurungan Tengah) pada 2000-an. Nah, di situlah jiwa pamong semakin kental. Bahkan kantor kelurahan buka mulai setengah tujuh, pulang kerja setengah lima sore, demi memberi pelayanan. Saya sangat mencintai pekerjaan sebagai carik. Mengantar edaran ke rumah warga, besok memasang bendera, membagi beras raskin, menguruskan KTP dan mengantarkannya ke rumah warga. Saya sangat senang, adanya pelayanan baik di situ bukti bahwa pemerintah ada,” katanya.
         Namun hingga 2002, ia diangkat menjadi Kasi Humas Pemkot Semarang. “Justru saya berat meninggalkan kelurahan, karena sudah begitu guyub dengan masyarakat. Saya merasa nikmat melayani langsung dengan masyarakat,” katanya.
           Tugas sebagai Kasi Humas ternyata lebih berat. Sebab, fungsi Humas tidak hanya sekadar hubungan dengan masyarakat. Tetapi membutuhkan strategi yang memeras otak. “Saya sebetulnya sudah tidak asing dengan pekerjaan humas. Karena dulu ketika era Orde Baru pernah juga bertugas sebagai pengamatan pers dan media. Siklus pengamatan pers setiap hari dihitung secara detil, bahkan jumlah kertas dihitung menggunakan analisa intelijen,” katanya.
         Ia mengambil pengalaman positif saat bertugas di Departeman Penerangan. Berbekal pola dan teknik ilmu intelijen tersebut justru membantu memudahkan identifikasi selama bekerja di Pemkot Semarang. Bahkan keahliannya mengumpulkan data membuat tiga Wali Kota di Semarang kesulitan mencari pengganti Achyani. Bahkan hingga ia pensiun, belum ada penggantinya.
         Ditanya dari tiga wali kota, siapa wali kota yang paling berkesan? Achyani mengaku tak bisa membedakan. “Semuanya berkesan, masing-masing memiliki karakter sendiri-sendiri. Semua pimpinan baik, tugas saya meringankan pimpinan agar beliau bisa bekerja dengan baik,” katanya.
          Ia mengaku tidak pernah berpikir “Ini orangnya siapa”. “Berusaha tidak berbohong kepada siapapun, dan komitmen itu kuncinya. Saya yakin bekerja penuh, apapun bidangnya akan baik. Humas itu sebenernya pekerjaan otak. Saya lebih banyak belajar dari teman-teman wartawan, bahkan menjadi bagian dari wartawan,” katanya.
           Pemimpin daerah tidak terlepas dari media. Sebab, jika tidak ada media, program pemerintah tidak diketahui oleh masyarakat. “Pemberitaan harus berimbang, tanpa ada intervensi. Saya tahu persis, kalau data tidak cukup, berita bisa melenceng. Maka saya seringkali membantu akses keperluan data bagi wartawan, agar berita berimbang,” kata ayah dua anak; Riyan Gata Priahita, 28, dan Agra Fajar Prasidya ini.
           Ia berpegang teguh, bekerja kepada negara disumpah untuk masyarakat. “Kalau sampai memersulit masyarakat, saya tidak bisa. Pemerintah harus hadir ndak usah dikomando, itu kerentek dari hati. Ndak usah menunggu perintah pak wali. Selamatkan rakyat, karena rakyat yang membayari kami,” pungkas pria yang sejak kecil bercita-cita menjadi ahli hukum itu.
           Setelah purna tugas, Achyani mengaku tidak memiliki target apa-apa. Ia akan menikmati sisa usia dengan keluarga dan lebih khusyuk untuk mendekatkan diri kepada tuhan. “Saya hanya ingin lebih banyak bermanfaat, migunani lingkungan. Jika saya masih diberikan kesehatan, ya memilih beribadah saja,” ungkap pria yang tinggal di Jalan Aria Mukti Tengah 4 Nomor 135 RT 3 RW 3, Pedurungan Lor, Kota Semarang.  (El)