Home Headline Abraham Samad Punya Firasat Buruk Sebelum Penangkapan Bambang

Abraham Samad Punya Firasat Buruk Sebelum Penangkapan Bambang

Ketua KPK Abraham Samad . foto/ist
Ketua KPK Abraham Samad . foto/ist
Ketua KPK Abraham Samad . foto/ist

Jakarta, 23/1 (Beritajateng.net) – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad dan Wakil Ketua KPK Adnan Pandu Praja menceritakan saat terakhir mereka sebelum Bambang Widjojanto ditangkap Bareskrim Polri pada Jumat pagi.

“Terakhir saya dan Pak BW (Bambang Widjojanto) sampai jam 10 malam, ketika beliau ingin menjenguk Abdee Slank. Saya memang sudah merasa firasat lain, saya bilang ke Pak BW ‘saya temani anda’,” kata Abraham dalam konferensi pers di gedung KPK Jakarta, Jumat.

Dalam konferensi pers tersebut hadir juga mantan pimpinan KPK Erry Riyana Hardjapamekas, M Jassin, Mas Achmad Santosa, mantan Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan Yunus Hussein serta sejumlah pegiat antikorupsi.

“Dan sesampainya di rumah sakit kita banyak bercerita, dan ada sesuatu hal yang menurut saya mungkin Pak BW sudah merasa bahwa akan menjadi target sama dengan saya. Ada hal-hal yang sangat sulit saya lupakan ketika dia bilang ‘Pak Abraham ini malam mungkin malam terakhir buat kita’,” kata Abraham dengan suara tercekat.

Abraham mengaku berangkat dari KPK pada Kamis (22/1) sekitar pukul 20.00 WIB.

“Saya punya firasat lain, mobil saya menyusul. Saya satu mobil dengan Pak BW, dia bilang mungkin ini hari-hari terakhir kita, karena dia bilang ‘Saya punya firasat antum kan dua kali diserang, saya belum, mungkin saya nanti girilrannya’,” kata Abraham mengulang pernyataan Bambang.

Bahkan, menurut Abraham, Bambang pun banyak bicara mengenai masa lalu.

“Dia mengingatkan bagaimana masa-masa lalu. Menurut Pak BW bahwa dia akan dikriminalisaisi dari kasus ini (Kotawaringin Barat), dan saya rasa dia punya firasat juga. Sampai RS kita ngobrol sama Abdee dan saat pulang tidak sama dia lagi, saat itu jam 10 malam,” ungkap Abraham.

Bambang bahkan mengatakan berkhayal bahwa keduanya lebih baik ditahan di Mako Brimob Depok bila keduanya dikriminalisasi.

“Dia main-main sama saya, dia bilang ‘Pak Bram, antum itu senangnya yang mana? Kalau kita dua-duanya ditahan kita ditahan di Markas Brimob saja supaya dekat dengan rumah saya, jadi istri saya bisa antar makanan ke saya, dan saya bisa kasih makanan saya ke anda,’ tapi saya bilang antum jangan begitu kita masih butuh kamu, Pak BW pun mengatakan ‘kita harus jaga kemungkinan terburuk,” cerita Abraham.

Selanjutnya pada pagi hari, Abraham mengaku bahwa Bambang juga sudah menduga serangan akan datang kepadanya.

“Pak BW menduga serangan akan datang ke dia, karena analisis dia serangan itu akan ditujukan ke dua orang yaitu saya dan Pak BW, tapi ada satu hal yang diambil hikmatnya pemberantasan korupsi tidak bisa terhenti dengan ditangkapnya Pak BW,” tegas Abraham.

Adnan Pandu Praja juga menyatakan bahwa Bambang sudah berkemas di kantornya.

“Pak Bw beberapa hari terakhir sudah kemas, dia punya feeling yang intuitif akan menghadapi kasus ini. Saya katakan kepada beliau tidak mungkin lah bos karena saya baru ketemu Badrodin Haiti dan dalam pertemuan itu beliau (Badrodin) mengatakan terkendali dengan benar,” kata Pandu.

Sehingga karena penjelasan Pandu tersebut Bambang pun keluar rumah pada Jumat pagi tanpa pendamping.

“Beliau keluar rumah tanpa pendamping berdasarkan penjelasan saya, tapi tanpa diduga terjadi hal-hal ini, maka bila pesannya agar kinerja kami terpengaruh insya Allah tidak sepreti itu, kami tetap seperti sedia kala. Jadi jangan ada kekhawatiran akan ada perubahan yang terjadi di KPK,” tegas Pandu.

Bambang ditangkap oleh penyidik Bareskrim Polri pada sekitar pukul 07.30 WIB di Depok seusai mengantarkan anaknya ke sekolah dan langsung dibawa ke Bareskrim Polri untuk diperiksa dengan sangkaan menyuruh untuk memberikan keterangan palsu terhadap para saksi dalam sengketa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Waringin Barat 2010.

Dalam konferensi pers tersebut hadir juga mantan pimpinan KPK Erry Riyana Hardjapamekas, M Jassin, Mas Achmad Santosa, mantan Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan Yunus Hussein serta pegiat antikorupsi antara lain mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana, Kordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras), Haris Azhar, koordinatot ICW Ade Irawan, Direktur Pukat Korupsi Universitas Gadjah Mada Zainal Arifin Mochtar, Ketua Komnas HAM Haridz Abbas, rohaniwan Romo Benny Susetyo, sosiolog Imam Prasodjo, guru besar universitas Andalas Saldi Isra dan pegiat antikorupsi lainnya.(ant/Bj02)