Home Lintas Jateng 800 Ahli Waris Lakukan Tradisi Nyadran Makam Sawah Besar

800 Ahli Waris Lakukan Tradisi Nyadran Makam Sawah Besar

IMG_20150607_104752

Semarang, 07/06 (BeritaJateng.net) – Dalam rangka menyambut bulan Ramadhan, tradisi nyadran (arwah jama’) telah dilakukan oleh 800 ahli waris di Jalan Dempel Barat, Kelurahan Sawah Besar Kecamatan Gayam Sari, Makam Margosari Mulyo.

Dihadiri Lurah Sawah Besar, (Purwoko., SH), Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) (Mulyadi, ST), Ketua Persatuan Putra Daerah (Papda) Kota Semarang (M. Rosyidin), para Kyai dan Ulama Kota Semarang (Kyai Slamet Qodar/Kyai Asem Arang), Ketua Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) kecamatan Gayamsari (Ali Ihwan, S. Pd. I) serta ketua Paguyuban Perawat Jenazah (P2JS) Kota Semarang (Ust. Maskhur).

800 ahli waris tersebut kurang lebihnya terdiri dari beberapa kelurahan, yaitu Rejosari, Bugangan, Melatiharjo, Tambakrejo, Kaligawe, dan Muktiharjo Lor.

Menurut ketua panitia Sunarso, kegiatan nyadran sudah dilakukan 3 tahun sampai saat ini.

“Berbeda-beda setiap tahunnya, mulai dari pukul 5.30-9.00 WIB. Ditambah pula ada bantuan dari Banser Gayam Sari sebanyak 10 personil untuk mengamankan kegiatan nyadran agar berjalan lancar,” imbuhnya.

Nyadran merupakan istilah yang dahulu diperuntukkan kepada Dewa namun Islam datang untuk meluruskan.

Ketua P2JS, ustadz Mashkur mengatakan, nyadran ditujukan untuk mengingat leluhur, mengirim doa terutama untuk orang tua.

“Keistimewaannya, bisa mempererat hubungan umat Islam dalam silaturrahmi. Membangkitkan budaya Walisongo, mendoakan orang-orang terdahulu (birrul walidain) dalam berziarah kubur,” paparnya.

Kegiatannya pun beragam, mulai dari membaca Yasin dan tahlil, istighosah, pembacaan tasbih, sholawat serta mendengarkan tausiyah dari para Alim Ulama/Kyai, dilanjutkan dengan berdoa masing-masing kepada ahli kuburnya. Ditutup dengan bersih-bersih makam sesudah ziarah/ritual.

Menurut Ketua Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) Ali Ihwan, dalam keorganisasian Nahdlatul Ulama (NU) sangat mendukung tradisi Nyadran.

“Ada akulturasi budaya, seperti Nyadran dan ziarah kubur, “ungkapnya. (Mg-1)