Home Headline 7.000 Guru dan Tendik Sekolah Negeri di Semarang Terjadwal Vaksinasi

7.000 Guru dan Tendik Sekolah Negeri di Semarang Terjadwal Vaksinasi

162

Semarang, 23/2 (BeritaJateng.net) – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melakukan vaksinasi kepada tenaga pendidik dan guru di Kota Semarang. Setidaknya ada sekitar 7.000 guru dan tenaga pendidik di Kota Semarang yang terdata mengikuti vaksinasi Covid-19.

Hal ini disampaikan oleh, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Gunawan Saptogiri melalui sambungan telepon, Selasa (23/2).

Ia menyebutkan jika di Kota Semarang setidaknya ada sekitar 7.000 guru dan tenaga kependidikan yang telah terdata di Dinas Kesehatan untuk mengikuti vaksinasi.

Data 7.000 orang tersebut merupakan guru dan tendik baik ASN maupun non ASN yang mengajar di sekolah negeri. Sedangkan, guru dan tendik yang mengajar di sekolah swasta akan menyusul secara bertahap. Sejauh ini, pihaknya belum mendapatkan instruksi dari Dinas Kesehatan mengenai vaksinasi bagi guru dan tendik sekolah swasta.

“Ini baru negeri dulu. Yang swasta nanti. Begitu ada info, kami tentu akan langsung sampaikan dan minta datanya,” terang Gunawan.

Dia menegaskan, kalangan dunia pendidikan siap divaksin. Sejauh ini, tidak ada guru maupun tendik yang menolak. Justru, kata dia, mereka sangat antusias menyambut program ini dan ingin segera divaksin.

“Jadwal vaksinasi menunggu dari Dinas Kesehatan dan kemarin sudah ada yang menjalani vaksinasi,” jelasnya.

Di Puskesmas Pandanaran Semarang, Selasa (23/2) tampak sejumlah guru dan kepala sekolah negeri baik SD maupun SMP di Kota Semarang terpantau melakukan vaksinasi Covid-19.

Vaksinasi memang dilakukan di puskesmas terdekat dari sekolah masing-masing.

Salah satunya, Kepala Sekolah SDN Pleburan 4, Tanti Puji Astuti mengatakan, ada 10 guru dari sekolahnya yang mengikuti vaksinasi. Namun, pada Selasa ini, baru ia yang terjadwal vaksinasi. Guru lainnya akan melakukan vaksinasi sesuai jadwal yang dipilih mereka.

Saat divaksin, Tanti mengaku sempat ketakutan hingga menyebabkan tekanan darahnya cukup tinggi. Dia sempat melakukan tensi hingga tiga kali.

“Tensi pertama 160, kedua masih tinggi hingga 164. Kemudian, tensi ketiga 150 baru diizinkan vaksin. Padahal, saya tidak punya riwayat hipertensi. Mungkin karena sempat ketakutan dulu. Di samping itu, saya tidak tahan AC. Jadi, sering ke kamar mandi, bisa jadi mempengaruhi emosi,” papar Tanti usai divaksin.

Setelah selesai divaksin, dia tidak merasakan reaksi apapun. Dia justru merasa senang telah mengikuti vaksinasi.

Menurut Tanti, kalangan guru menginginkan untuk segera divaksin karena dunianya berkecimpung dengan anak-anak. Terlebih, kata dia, usia kelas 1 masih cukup sulit untuk diajak memakai masker.

Dia berharap, aktivitas guru sebagai pengajar lebih aman setelah divaksin dan bisa segera mengajar tatap muka seperti sedia kala.

“Memang saat ini belum diizinkan untuk pertemuan tatap muka. Mudah-mudahan bisa kembali bertemu anak-anak setelah divaksin,” ucapnya.

Senada, Guru SDN Barusari 01, Nanang Prasetyo mengungkapkan siap mengajar dengan catatan siswa harus dipersiapkan dengan baik. Artinya, siswa juga perlu dilakukan vaksinasi terlebih dahulu sebelum pembelajaran tatap muka.

“Harapannya segera saja masyarakat bisa divaksin semua sehingga kegiatan masyarakat berjalan baik,” katanya.

Dia menambahkan, vaksinasi yang ia jalani berjalan lancar. Sejauh ini, dia juga tidak merasakan efek samping atau dampak apapun.

“Biasanya ada yang ngantuk, demam, lemes. Semoga saya tidak terjadi apa-apa dan semoga berpengaruh pada imun saya,” ucapnya. (El)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

seventeen − 15 =