Home News Update 68 Mahasiswa Undip ‘Nggambar’ Sketsa Di Jalanan

68 Mahasiswa Undip ‘Nggambar’ Sketsa Di Jalanan

1029
Sebanyak 68 mahasiswa undip menggambar sketsa di jalanan

 

Semarang, 3/3 (BeritaJateng.net) – Sebanyak 68 mahasiswa duduk berjejer di samping Jalan Seroja Semarang, mereka melakukan kegiatan sketsa langsung dengan menggambar gedung yang ada di sepenjang jalan menuju simpang lima. Sekelompok mahasiswa D3 Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip) ini sedang belajar untuk terampil menggambar sketsa, Kamis (3/3) sore.

Usai hujan yang mengguyur kota Semarang terlihat tak menyurutkan semangat belajar menggambar sketsa mereka. Ir. Budi Sudarwanto., M.Si selaku Kaprodi D3 Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Undip beserta tiga dosen mata kuliah arsitektur yang saat itu mendampingi mahasiswanya mengatakan bahwa kegiatan gambar sketsa arsitektur ini merupakan bagian dari belajar untuk terampil menggambar sketsa yang dilakukan oleh mahasiswa semester 2, angkatan 2015.

“Ini kan sketsa langsung, dan bukan sketsa gambar foto akan tetapi ini langsung dari objek yang mau digambar. Dari kegiatan belajar ini akan melatih psikomotorik mahasiswa,” terang  Budi saat diwawancarai di lokasi, Kamis (3/3) sore.

Dalam memilih lokasi untuk menggambar sketsa langsung ini pun dipilih tempat yang mempunyai daya tarik dan tidak membahayakan bagi mahasiswa. Dijelaskan Budi, awalnya mereka ingin menggambar Gedung Java Mall dilihat dari tanah putih, namun tidak jadi karena faktor situasi dan kondisi tempatnya.

Nantinya hasil dari karya sketsa mahasiswa ini akan dibawa, dipresentasikan dan dievaluasi dari masing-masing dosen pengampu, baik dari sisi proporsi, ketajaman maupun kesulitannya.

“Oleh karena itu mahasiwa harus rajin berlatih,” imbuh Budi.

Dalam durasi waktu 1-2 jam, mahasiswa setidaknya bisa menyelesaikan karya sketsa mereka. Masih di lokasi yang sama, Ir. Agung Dwiyanto,MSA selaku dosen pengajar mata kuliah arsitektur, mejelaskan jika arsitektur bukanlah seni melukis akan tetapi sketsa berupa gambar depannya. Dalam membuat sketsa yang diandalkan adalah proporsi dan komposisi gambarnya yang pas.

“Ketika nanti sketsa sudah selesai, mahasiswa masih membutuhkan sentuhan sedikit , berupa informasi yang bisa diterima banyak orang dari hasil sketsanya,” terang Agung Dwi saat diwawancarai disela-sela aktivitas membimbing mahasiswa, Kamis (3/3) sore.

Nah, dari hasil sketsa tersebut akan dipamerkan, tujuannya agar mahasiswa mendapat komentar dari kakak kelasnya yang lebih senior sehingga mereka berani menampilkan karyanya. Menurut Agung, setiap orang diberikan oleh Allah masing-masing talenta yang lain daripada yang lain.

“Allah memberikan kemampuan tangan yang tidak sama, kita disini sebagai dosen mengarahkan  tentang bagaimana komposisi gambar yang benar, bagaimana cara sentuhan untuk menonjolkan informasi yang ingin kita sampaikan. Untuk itu mahasiswa perlu latihan, terlebih dengan gaya coretan tangan yang berbeda-beda,” paparnya lagi.

Dijelaskan Agung Dwi saat ini kita telah dijajah dengan teknologi, adik-adik kita tidak lagi mengenal seni drawing karena dikalahkan dengan leptop. Padahal leptop yang paling hebat diseluruh dunia adalah tangan dan otak kita.

“Pemberian Allah hanya dikalahkan dengan seonggok komputer, ini kan sangat menyedihkan. Disini kita tekankan skill mahasiswa harus didapatkan, komputer hanya sebagai sarana bantu untuk memvisualisasikan objek. Semester awal ini, mahasiswa harus banyak latihan, karena nanti jam terbang merekalah yang menentukan,” imbuhnya.

Senada dengan Ir. Agung Dwiyanto,MSA, Ir. Agung Budi Sardjono., MT yang juga dosen mata kuliah gambar arsitektur menekankan pada mahasiswanya agar mereka belajar praktik sketsa langsung, karena mata kuliah 60 persen adalah praktik dan 40 persennya merupakan teori. Sehingga mereka harus bisa menguasai keduanya, terlebih praktiknya.

“Mereka (mahasiswa) memang tugasnya banyak, dalam 1 semester ada 8 tugas, mulai dari objek yang sederhana sampai yang kompleks. Ini merupakan tugas ketiga. Tugas mereka merekam gedung dalam dua komposisi.  Bisa menggambar yang satu sebagai objek utama, satunya lagi bagian depannya sebagai latar belakang dan ini terdapat perbedaan,” jelas Agung Budi.

Dikatakannya, mahasiswa bebas mau menentukan yang mana saat menggambar. Penilainnya sendiri dilihat dari estetikanya yang paling bagus. Dari 8 tugas akan mendapat nilai rata-rata dengan beberapa pengecualian.

“Kalau progresnya kelihatan, maka nilai yang diambil adalah yang paling baik. Timnya ada dari empat dosen pengampu, dan dari masing-masing pengampu memberi 2 tugas. Nanti pasti ada hasil terbaik diantara karyanya. Mereka dipakasa untuk berlatih dari yang tidak bisa menjadi bisa. Apabila hasilnya baik diharapkan mereka bisa berlatih terus,” paparnya.

Ketua Komunitas  Lukis Cat Air Indonesia Chapter Semarang sekaligus Founder OASE, Harry Suryo., MM, yang saat itu kebetulan lewat di Jalan Seroja berpendapat bahwa sketsa merupakan life style di Semarang. Ia mengungkapkan kisah salah seorang rekannya di Turki yang mengenalkan Negaranya melalui sketsa.

“Teman saya itu menampilkan apa yang dilihat melalui hasil karya sketsanya,” tuturnya.

Menurut Harry, kegiatan yang dilakukan mahasiswa Undip ini merupakan bentuk edukasi yang mencoba melatih skill, melatih kepekaan indera dalam mencari angle yang pas.

“Hal ini harus diimbangi kemampuan saat menggunakan kemampuan otak kanan dan kiri. Sketsa mencoba menangkap apa yang indera kita bisa tangkap,” pungkasnya. (BJT01)

Comments are closed.