Nelayan Jateng Jalani Pengecekan Kesehatan Paska Kembali Dari Mimika

SEMARANG, 21/8 (beritajateng.net) – Sebanyak 116 Nelayan dari berbagai daerah di Jawa Tengah telah dipulangkan dari Mimika Papua. Mereka diangkut menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU dan mendarat di Bandara A Yani Semarang, Minggu (20/8). Dari jumlah tersebut sebanyak 85 diantaranya berasal dari Kabupaten Kendal. Dan sisanya berasal dari Brebes, Tegal, Pemalang, Demak dan Kota Semarang.

Bupati Kendal Mirna Annisa mengungkapkan, ke 116 Nelayan tersebut saat ini menjalani pengecekan kesehatan secara menyeluruh sebelum dipulangkan ke rumahnya.

“Mereka diinapkan untuk pengecekan kesehatan secara menyeluruh. Kemungkinan selama dua hari karena jumlahnya banyak,” ungkapnya saat dihubungi melalui telpon.

Setelah pengecekan kesehatan selesai, ke 116 nelayan tersebut akan dikembalikan ke rumah masing masing. Beaya pemulangan nelayan tersebut sepenuhnya ditanggung oleh Pemkab Kendal, kecuali yang berasal dari luar kendal.

“Mereka yang berasal dari luar Kendal, pemulangannya difasilitasi oleh Pemprov Jateng,” jelasnya.

Mirna menambahkan, Nelayan yang baru saja dipulangkan tersebut sebagian besar berusia produktif, oleh karena itu pihaknya sedang mencarikan solusi apakah akan dialihkan ke pekerjaan lain atau tetap jadi nelayan.

Bupati yang juga seorang dokter ini mengharapkan agar para nelayan ini tidak tergesa gesa untuk kembali ke Papua menekuni pekeerjaannya lagi. Dia minta untuk melakukan koordinasi dengan pemerintah kabupaten Kendal dan Pemprov Jateng agar peristiwa serupa tidak terulang lagi.

“Saya harapkan tidak tergesa gesa kembali bekerja sebagai nelayan di Papua, lebih baik tunggu hasil koordinasi antara Pemprov Jateng dan Pemprov Papua. Ini melibatkan wilayah dua provinsi,” bebernya.

Diberitakan sebelumnya, sebanyak 400 Nelayan dari berbagai daerah di Jawa Tengah terlibat konflik dengan Nelayan setempat di Mimika Papua. Konflik ditengarai karena kecemburuan sosial nelayan setempat mengingat hasil kerja nelayan Jateng lebih banyak dan memiliki nilai jual lebih tinggi dari tangkapan nelayan setempat. Dalam konflik tersebut juga terjadi pembakaran dan penjarahan terhadap bekal nelayan Jateng, sehingga mereka kehabisan bekal.

(NK)

Tulis Komentar Pertama