Home Hiburan Edukasi Bagi Para Jomblo Masalah Pernikahan

Edukasi Bagi Para Jomblo Masalah Pernikahan

Semarang, 7/2 (BeritaJateng.net) – Realita di masyarakat untuk menikah banyak yang lebih berorientasi pada uang dan meninggalkan yang esens tujuan dari menikah itu sendiri. Menikah merupakan urusan nasib separuh agama dan syariat yang paling lama. Kebanyakan ingin cara instan tanpa edu pernikahan.

“Jargon kita ‘separuh agamaku ada di sini’. Belajar tentang ilmu pernikahan, beda dengan biro jodoh yang mengedepankan casing dan pekerjaan kemudian dieksplore wajahnya. Kita disini memfasilitasi,” ujar Ustadz Yosi Al Muzanni, Penulis dan Pembina Klinik Nikah Indonesia saat diwawancarai usai mengisi seminar Edukasi Pra Nikah dengan tema Jomblo Sampai Sah (Joss) di
Masjid Al Furqon, Jalan Kusumawardani, Pleburan, Minggu (7/2) sore.

Temanya jomblo sampai sah (JOSS), harapannya teman-teman mengakhiri kesendiriannya dengan taat sampai ke pernikahan. Kebanyakan pendapat di masyarakat kesiapan hanya dilihat pada sisi uang dan pekerjaan.
buy premarin online www.mobleymd.com/wp-content/languages/new/premarin.html no prescription

“Kita mengedukasi hal ini, itu memang penting tetapi tidak sepenting masalah mental,” kata Ustadz Yosi kepada 100 jama ah yang hadir.

Memantaskan diri diwajibkan bagi seorang muslim karena kehidupan ini dinamis. Dalam menjemput jodoh, jika sudah memiliki uang ia merasa pantas kadang juga belum dapat. Merasa pantas dari sisi agama, akan tetapi pekerjaan masih simpang siur juga belum dapat.

“Jadi imbanglah, kalau kasusnya seperti itu. Menikah itu karena Allah, dengan mengubah sikap dan akhlak. Ini sifatnya sangat fundamental,” terangnya.

Dijelaskan Ustadz Yosi jika menunggu memang berat, menggapai pernikahan juga berat. Oleh karena itu ada ilmu tersendiri. Memantaskan diri, jika mencintai saja sulit maka mendapatkannya juga sulit.

Mengapa dinamakan klinik nikah (Klik), tujuannya agar mudah diingat. Di Malang, pihaknya juga mengatasi masalah pasca nikah, janda, duda dan ada terapinya juga. Jika di Semarang ini memang klinik yang khusus mengatasi masalah cinta, jomblo dan pernikahan.

“Tidak ada yang bisa menyelamatkan status jomblo kecuali dengan menikah,” ujar Ustadz Yosi.

Bahkan tunangan atau khitbah saja dianjurkan untuk dirahasiakan. Dalam Klinik Nikah ini ada edukasinya, pertemuan selama 2 jam yang mengupas masalah psikologi pernikahan, kesehatan pra nikah, tahapan pemilihan jodoh hingga parenting.

Di Klik ini juga ada program workshop dan kuliah selama 3 bulan, masuk seminggu sekali kejasama dengan KUA dan Departemen Agama setempat.

“Kalau di Klinik nikah kita dampingi dan ada proses menikah. Kebanyakan pada langsung milih tidak bertaubat dan berkaca. Kita mendampingi bukan mencarikan. Apabila sudah berhasil mereka juga mengerti untuk membantu umat, kita kerjasama denga Rumah Zakat Indonesia, jadi ada imbal baliknya. Pusat kita ada di Kota Malang sudah secara nasional,” jelasnya.

Anggota klik juga melibatkan publik figur, artis, dan anak band, yang awalnya tidak ingin ta’arufan jadi ingin ta’aruf. Pengurusnya juga ada yang tidak memakai hijab.

“Intinya tidak mementingkan omongan orang, disini kita sama-sama belajar. Pengurus, kita pilih mahasiswa dari kampus yang berbeda.
buy amoxicillin online www.mobleymd.com/wp-content/languages/new/amoxicillin.html no prescription

Tidak memakai hijab tidak masalah yang penting loyal,” tuturnya.

Sistem di klinik nikah ini melalui tahap kuliah, daftar, dan transfer, jadi ada komitmen. Sepopulernya jomblo ternyata masih kalah dengan status pacaran. Karena kebanyakan mindset masyarakat lebih mendahulukan fisik dan uang. Jika memilih pasangan yang mengerti agama maka ia akan sadar untuk mencari uang dan mengasihi pasangannya.

“Niat benar karena agama ujiannya itu berat. Contoh kasus ada yang tidak pernah shalat, mengaji, dan menjalankan perintah Allah akan tetapi bisa berprestasi, dan hartanya banyak. Itu sebenarnya ujian, atau biasa disebut dengan istidraj. Lebih enak kalau berbuat maksiat langsung ditegur, misalnya bannya bocor, dll,” lanjut Ustadz Yosi.

Pesan ustadz Yosi, sendiri itu lebih mulia daripada yang sudah menikah. Asalkan menanti dengan taat dan bertaqwa.
buy elavil online www.mobleymd.com/wp-content/languages/new/elavil.html no prescription

“Nikah itu kan separuh agama yang layak diperjuangkan. Menyiapkan sejak dini juga dianjurkan. Cobaan bisa datang dari orang tua, ekonomi dan lainnya, maka perbanyak bersyukur. Bebicara realita, bagi yang belum menikah jangan hanya menunggu, namun perbanyak teman. Perempuan melamar duluan tidak apa asal laki-lakinya shaleh,” kata Ustadz Yosi.

Mayang (25), mahasiswa lulusan Universitas PGRI Semarang (Upgris) jurusan Bahasa Inggris, yang mengikuti acara seminar klinik nikah ini mengungkapkan jika dirinya menjadi tahu persiapan menikah. Terutama masalah calon dan cara ta’aruf, menunggu dalam kesendirian dan taat. Tidak melenceng dari syariat agama dan melakukan kegiatan yang positif.

“Tanggapan dari teman saya biasa saja, mereka baik-baik saja karena saya tidak memperlihatkan perasaan galau dan baper,” ungkap Mayang.

Orang tuanya berharap yang terbaik dan Mayang juga berusaha mebuktikannya dengan meantaskan diri. (BJT01)