Home Life Style Kampung Kauman Semarang Dicanangkan sebagai “Kampung Al Qur’an”

Kampung Kauman Semarang Dicanangkan sebagai “Kampung Al Qur’an”

Semarang, 3/2 (BeritaJateng.net) – Sejumlah ulama dan tokoh mayarakat yang ada di wilayah Kauman Semarang, dalam waktu dekat akan mencanangkan kawasan yang penuh nilai sejarah dan Islam ini sebagai “Kampung Al Qur’an”.  Salah satunya diutarakan oleh Ir. H. Khammad Ma’sum selaku pengasuh Ponpes Raudhatul Qur’an, Kauman Glondong, Semarang.

Menurut Ma’sum, hal itu direncanakan dilakukan bersamaan dengan kegiatan ‘”Khataman Al Qur’an Binnadhor dan Bilghoib” yang diselenggarakan oleh Ponpes Raudhatul Qur’an, sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad S.A.W 1437 H, pada hari Sabtu (6/2) mendatang, mulai pukul 18.00 WIB, di Jalan Kauman Semarang.

“Nanti akan kita canangkan di depan Walikota Semarang terpilih Hendrar Prihdadi yang Insya Allah akan hadir dan PJ Walikota Semarang Tavip Supriyanto,” kata Ma’sum ditemani H. Zaenal Arifin, SE selaku Bendahara II, saat menerima sejumlah wartawan di ruang utama Ponpes Raudhatul Qur’an, Rabu (3/2) siang.

IMG_0009

Dalam khataman nanti, juga akan dihadiri Prof .Dr. KH Said Agil Sirojd, MA yang juga sebagai Ketua Umum PBNU sebagai pembicara atau penceramah. Diperkirakan, sebanyak tiga ribu jamaah akan menghadiri acara Khataman dan peringatan Maulid itu.

“Kami menyedikan tempat 2500 jamaah, tapi biasanya yang datang lebih, bisa mencapai tiga ribuan jamaah. Untuk peserta khataman Bilghoib ada 16 santri, 5 diantaranya putra dan 11 putri. Sedangkan yang Binnadhor ada 31 Santri. Putra ada 7, yang putri ada 24,” ujar Ma’sum.

Dikatakan Ma’sum, wacana ini dilatarbelakangi oleh keberadaan beberapa Pondok Pesantren di wilayah Kauman Semarang yang sejak lama telah mencetak para ‘hafidz’ dan ‘hafidzoh’ (penghafal Qur’an). Bahkan, Ponpes Raudhatul Quran ini sudah berdiri sejak tahun 1952.

“Harapannya kedepan, akan ada orang-orang Kauman yang bisa mengajar Al Quran. Setelah terbentuk ‘kampung Al Qur’an’ ini, nantinya santri-santri yang belajar dan menghafal Al Qur’an tak hanya di Ponpes saja, melainkan bisa di rumah-rumah penduduk Kauman,” harapnya.

Selain itu, dalam acara yang sama juga diselenggarakan khitanan masal yang diikuti oleh belasan anak. Terkait pelaksanaanya, acara tersebut semula digelar tiap setahun sekali. Karena jumlah peminat dan jamaah tiap tahun semakin meningkat, maka untuk saat ini digelar tiap dua tahun sekali.

“Karena kami harus menutup jalan Kauman, yang mana disitu banyak puluhan toko atau pusat kegiatan perekonomian. Sehingga kami juga perlu mempertimbangkan dari berbagai aspek. Untuk persiapan ini saja, Jumat malam sudah dilakukan penutupan,” kata anak dari Almarhum KH Turmudzi Taslim, pendiri Ponpes Raudhotul Quran itu.

Tentang sejauh mana wilayah yang dicanangkan sebagai “Kampung Al Quran” ini, sambung Ma’sum, meliputi Masjid Agung Semarang (MAS) atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Agung Kauman, hingga perempatan Jalan Kranggan Semarang.

“Kami akan fokus di wilayah tersebut, namun demikian bukan berarti diluar itu tidak dianggap. Silahkan yang merasa dan berkeinginan untuk mencetak santri penghafal Qur’an, berhak mengklaimnya,” tambanya.

Diceritakan Ma’sum, dahulu pada tahun 1981, Ponpes Raudhatul Qur’an ini belum mempunyai banyak gedung. Meski demikian, saat itu, sudah ada santri yang ingin menghafal Al Qur’an. Lantaran keterbatasan fasilitas, membuat para santri harus pulang pergi dari tempat asal menuju Pondok Pesantren.

“Saat itu, belum mempunyai banyak tempat untuk menampung para santri. Padahal tempat tinggal atau asal mereka jauh-jauh, bahkan ada yang dari Kalimantan dan Sumatra,” tutur Ma’sum.

Seiring berkembangnya waktu, pada tahun 1985, mulai dibangun beberapa gedung yang difungsikan untuk tempat tinggal para santri. Hingga saat ini, tercatat Pondok ini memiliki 16 gedung atau Pondok yang berada terpisah antara gedung satu dengan yang lainnya, namun masih berada di wilayah yang sama. Jumlah pondok itu, berdiri tepatnya di dua Kelurahan, yakni Kelurahan Kauman dan Kelurahan Bangunharjo.

“16 gedung itu merupakan tanah wakaf semua, kecuali yang ini (gedung utama). Bahkan ada yang memwakafkan dengan memberikan rumah, kemudian diratakan menjadi tanah, lalu dibangun kembali menjadi gedung baru. Gedung-gedung di pondok ini, Meski letaknya tidak berdekatan tapi dengan nama yang sama, yaitu Raudhotul Qur’an,” jelasnya. (Bjt02)