Home Headline 20 Pelajar Jadi Korban Longsor Banjarnegara

20 Pelajar Jadi Korban Longsor Banjarnegara

Evakuasi%20Longsor
Proses evakuasi korban longsor Banjarnegara. (BJ/RIS)

Banjarnegara, 17/12 (Beritajateng.net) – Sebanyak 20 pelajar dilaporkan menjadi korban bencana tanah longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

“Dari 20 pelajar itu, enam di antaranya telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Namun, data masih terus berkembang,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan Kecamatan Karangkobar Poniran di Karangkobar, Banjarnegara, Rabu seperti dikutip Antara.

Menurut dia, enam pelajar yang ditemukan meninggal dalam bencana longsor tersebut, yakni Mudiono dan Feri Ade Setiawan, siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Sampang.

Selanjutnya, Eka Aditya Ramadani dan Sefi Fitria Rohman, siswa SDN 1 Karangkobar, Dwi Endaryani, siswa SDN 2 Karangkobar, serta Ozi, siswa Sekolah Menengah (SMP) Maarif Karangkobar.

Sementara 14 pelajar yang belum ditemukan, kata dia, Ayu dan Farah, siswa Taman Kanak-Kanak (TK) Pertiwi Leksana, Cindi Ariyani Ayu Sukma, Fajar Mulyantoro, Fuad Mafturohman, Ratna Oktafiani, Khikmah, Indriyani Masaroh, Diana Damayanti, Janatun Karim, dan Anisa Nurin Ariandini, siswa SDN 1 Sampang, Dafa Setia Wahyudi, siswa SDN 2 Sampang, Vandy Yoga Pratama, siswa SDN 1 Karangkobar, serta Dea Anggraeni, siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Karangkobar.

Selain pelajar, lanjut dia, dua guru juga menjadi korban dalam bencana longsor itu, yakni Sukamto, guru SDN 2 Pasuruhan, serta Rohyati, guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Tanggapan, keduanya telah ditemukan meninggal dunia.

“Data masih terus berkembang karena kami menerima informasi kalau masih banyak siswa yang belum ditemukan,” katanya.

Sementara untuk siswa yang selamat, kata dia, sebanyak 133 orang yang tersebar di tujuh lokasi pengungsian.

Dengan demikian, lanjut dia, para siswa yang selamat itu untuk sementara belajar di lokasi pengungsian.

“Sekolah tidak diliburkan meskipun tidak ada aktivitas belajar mengajar karena kegiatan tersebut dilakukan di pengungsian,” katanya.(ant/pj)