Home Lintas Jateng 199 jiwa Mengungsi Akibat Gerakan Tanah

199 jiwa Mengungsi Akibat Gerakan Tanah

image
Ilustrasj

Cilacap, 26/12 (Beritajateng.net) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Jawa Tengah, menyatakan bahwa sebanyak 199 jiwa dari 34 keluarga mengungsi akibat gerakan tanah yang terjadi di Dusun Cijinjing, Desa Cibeunying.

“Empat hari lalu, sebanyak empat rumah sudah rusak parah karena lantainya sudah pecah dan dinding-dindingnya sudah retak sehingga kami bersama TNI/Polri meminta agar empat rumah itu tidak ditempati,” kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Cilacap Supriyanto di Cilacap, Jumat malam.

Akan tetapi pada hari Kamis (25/12), kata dia, jumlah rumah yang rusak bertambah menjadi tujuh unit sehingga setiap malam atau saat hujan warga setempat mengungsi ke rumah-rumah penduduk yang aman atau ke rumah saudara-saudaranya maupun masjid yang berjarak satu kilometer dari lokasi gerakan tanah.

Menurut dia, tim dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung telah mendatangi lokasi gerakan tanah di Dusun Cijinjing, Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, untuk melakukan kajian dan hasilnya akan disampaikan satu minggu ke depan.

“Dari kesimpulan sementara, daerah tersebut rentan terhadap ancaman longsor sehingga masyarakat perlu hati-hati,” katanya.

Dia mengakui bahwa selama ini di Dusun Cijinjing belum dipasangi ekstensometer untuk mengukur parameter pergeseran tanah meskipun wilayah tersebut rentan terhadap ancaman longsor.

Kendati demikian, dia mengatakan bahwa Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah meminta BPBD Cilacap untuk segera mengusulkan pengadaan alat peringatan dini tanah longsor atau “landslide early warning system” (LEWS).

“Kami akan coba mengusulkan. Dulu, Pertamina pernah memasang LEWS di Desa Negarajati, Kecamatan Cimanggu, kalau di Cibeunying belum ada, kami akan mengusulkannya ke pusat,” katanya.

Lebih lanjut, Supriyanto mengatakan bahwa pihaknya bersama TNI/Polri berusaha mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana longsor di Dusun Cijinjing sedini mungkin karena langkah preventif lebih baik daripada penanganan pada masa tanggap darurat.

Menurut dia, hal itu disebabkan bagian bawah Dusun Cijinjing terdapat Sungai Cijalu sehingga jika terjadi longsor dan meterial longsorannya masuk ke sungai akan menjadi sumbatan.

Ia mengatakan bahwa kondisi tersebut dapat mengakibatkan terjadinya limpasan di wilayah yang berada di bantaran Sungai Cijalu.

“Tapi mudah-mudahan tidak sampai terjadi longsor. Kami belajar dari pengalaman tempat lain termasuk Banjarnegara (longsor di Dusun Jemblung, red.),” katanya.

Dalam kesempatan terpisah, Komandan Komando Distrik Militer 0703/Cilacap Letnan Kolonel Infanteri Ferry Irawan mengatakan bahwa rekahan tanah yang terjadi di Dusun Cijinjing sudah cukup dalam.

Sebelum rekahan itu terjadi, kata dia, warga Dusun Cijinjing sempat dikejutkan dengan suara seperti ledakan hingga dua kali pada pekan lalu.

“Rekahan itu muncul dan setiap habis hujan bertambah lebar. Kemarin, saya mengecek ke sana ada rekahan atau bangunan yang bergeser 30 centimeter, tanah ambles 50 centimeter sampai 1 meter,” katanya.

Oleh karena itu, kata dia, titik pengungsian yang selama ini masih cukup dekat lokasi gerakan tanah, digeser menjauhi lokasi sambil menunggu perkembangan atau hasil pengecekan yang dilakukan tim PVMBG Bandung.

Dia memperkirakan jika gerakan tanah di Dusun Cijinjing itu longsor, wilayah yang terancam bencana cukup luas.

“Dari perkiraan medan (Dusun Cijinjing, red.) lebih tinggi, hampir 700 meter, langsung menuju sungai karena di bawah ada sungai. Di seberang sungai ada kampung, di hulu dan di hilir ada perkampungan lagi. Kemungkinan kalau dia (tanah longsor, red.) jatuh menutupi sungai, akan membentuk dam,” katanya.

Jika kondisi tersebut tidak diatasi, kata dia, akan mengakibatkan terjadinya air bah atau banjir.

Berdasarkan informasi dari masyarakat, lanjut dia, kejadian semacam itu pernah terjadi pada tahun 2003.

“Longsor di hulu sungai, tidak ketahuan, sehingga begitu hujan terus-menerus, jebol damnya, sampai di Majenang airnya. Informasi dari warga, di desa itu setiap tiga tahun ada rekahan tetapi tahun ini yang paling parah,” kata dia menjelaskan.(ant/BJ03)

Advertisements