Home Headline 160 Ribu Warga Semarang Belum Tercover UHC

160 Ribu Warga Semarang Belum Tercover UHC

315
0
Pembukaan Rapat Kerja Kesehatan (Rakerkes) 2018.
Pembukaan Rapat Kerja Kesehatan (Rakerkes) 2018.

Semarang, 14/5 (BeritaJateng.net) – Warga Kota Semarang belum seluruhnya tercover program Universal Health Coverage (UHC) yang dilaunching Wali Kota Semarang pada November 2017 lalu. Saat ini, masih ada sekitar 10 persen dari total penduduk Semarang yang belum menjadi peserta program unggulan di bidang Kesehatan itu.

        Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, Widoyono menuturkan, masih adanya warga yang belum terlindungi kesehatannya melalui program UHC dikarenakan warga menunggu mendaftar ketika sakit.
         “Memang masih banyak yang belum tercover UHC karena belum mendaftar. Masih ada 10 persen atau 160.000 warga yang tersebar di 177 kelurahan di Kota Semarang,” kata Widoyono, di sela Rapat Kerja Kesehatan (Rakerkes) 2018, di Hotel Aston Semarang, Senin (14/5).
         Ia mengungkapkan, hingga kini terus mendorong Camat dan Lurah di Kota Semarang untuk menggencarkan sosialisasi ke warga. Ia meminta warga tidak baru mendaftar di saat sedang sakit agar bisa menikmati layanan berobat gratis.
         “Jika tidak terdaftar peserta UHC, khawatirnya nanti ada kendala begitu berobat. Meskipun sebenarnya bisa langsung dicover asal mau dirawat di kelas III. Tapi kan pasti repot dan butuh waktu,” ucapnya.
         Mengenai ketersediaan kamar inap kelas III di Rumah Sakit, Widoyono mengklaim saat ini masih terpenuhi. Bahkan Pemkot Semarang akan menambah jumlah kamar dan jumlah rumah sakit yang nantinya diperuntukan bagi layanan UHC.
          Rencananya, Pemkot akan membangun gedung baru untuk rawat inap kelas III di RSUD KRMT Wongsonegoro dan satu rumah sakit di daerah Kecamatan Mijen. Rumah sakit tersebut merupakan pengembangan dari Puskesmas yang sudah melayani rawat inap warga.
         “Ketersediaan kamar kelas III cukup. Bahkan di Mijen nanti kita bangun Rumah Sakit untuk kelas III dengan kapasitas 100 kamar,” paparnya.
         Hanya saja, Rumah Sakit di Mijen tersebut saat ini sedang dalam proses kajian Amdal, Detail Enginering Desain (DED) dan Feasibility Study (FS). Rencananya, pembangunan Rumah Sakit tersebut baru akan dimulai 2019 mendatang.
         Dengan berbagai upaya dan kemudahan layanan kesehatan yang diberikan ke warga, maka diharapkan Kota Semarang akan menjadi Kota Sehat Terbaik di Jawa Tengah pada 2021 mendatang. Hal itu sebagaimana target dari Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi.
         Sementara itu, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengucapkan, Pemkot Semarang akan terus melakukan inovasi untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Menurutnya, sebuah kota yang hebat harus mampu menyelesaikan dua masalah fundamental yaitu masalah kesehatan dan pendidikan. “Kalau keduanya tidak bisa ditangani, maka pembangunan sebagus apapun tidak akan bertahan lama, tidak ada gunanya,” ucap Hendi, sapaannya, usai membuka Rakerkes 2018.
         Hendi menuturkan, Pemkot Semarang telah komitmen mengalokasikan 10 persen dari APBD untuk kesehatan. Sehingga, sudah seharusnya Dinkes hingga seluruh Puskesmas di Kota Semarang jemput bola agar seluruh warga terlayani.
        Namun kenyataannya, Hendi mengaku hingga saat ini masih banyak menerima keluhan dari warga minta bantuan di rawat di Rumah Sakit. Padahal dengan program UHC, semua warga Kota Semarang sudah dijamin biayanya jika mau berobat menggunakan layanan kelas III. “Kan sudah ada UHC. Artinya program itu masih belum tersosialisasikan secara maksimal. Ini jadi tugas kita bersama. Kita menginginkan warga dilayani dengan cepat dan baik,” katanya. (El)