Home News Update Boemi Desak Bupati Pati Cabut Ijin Pentas Lumba-lumba

Boemi Desak Bupati Pati Cabut Ijin Pentas Lumba-lumba

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

Pati, 22/1 (Beritajateng.net) – Aktivis yang tergabung dalam Komunitas Boemi menuntut Bupati Pati, Jawa Tengah, mencabut izin pentas lumba-lumba dan aneka satwa di daerah setempat karena dianggap sebagai bentuk kekerasan terhadap satwa.

Juru bicara Komunitas Boemi Haris Rubiyanto di Pati, Kamis, mengungkapkan, pentas lumba-lumba merupakan bentuk kekerasan terhadap satwa melalui pengondisian di luar habitat dan kebiasaan hidupnya.

Selain itu, kata dia, satwa yang dibawa berkeliling ke sejumlah kota untuk melakukan pertunjukan juga membahayakan satwa.

“Kami menganggap pentas satwa tersebut juga minim edukasi dan hanya sebatas hiburan belaka,” ujarnya.

Penyelenggara pentas satwa tersebut, lanjut dia, hanya sekadar mencari keuntungan tanpa mempertimbangkan dampaknya.

“Kami menganggap pentas keliling aneka satwa merupakan pembohongan publik dengan memperburuk mental masyarakat karena akan menjadikan masyarakat terbiasa melihat hiburan pertunjukkan satwa dengan cara-cara kekerasan,” ujarnya.

Tindakan eksploitasi terhadap satwa, kata dia, bisa dianggap melanggar hukum karena sebelumnya sudah ada larangan pentas keliling satwa.

“Lumba-lumba termasuk hewan yang dilindungi pemerintah sesuai Undang-Undang nomor 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati,” ujarnya.

Aturan lain yang melarang pentas satwa keliling, di antaranya lewat surat edaran Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan nomor S.388/IV-KKH/2013.

Surat tersebut, menjelaskan bahwa Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta tidak diperkenankan mengeluarkan surat angkut tumbuhan satwa dalam negeri (SATS DN) bagi peragaan lumba-lumba keliling.

BKSDA juga diperintahkan untuk mengawasi peragaan lumba-lumba keliling dan mengambil tindakan untuk menarik kembali satwa tersebut ke Lembaga Konservasi asalnya.

Tuntutan aktivis lingkungan agar Bupati Pati mencabut izin pentas lumba-lumba juga dilakukan lewat aksi unjuk rasa dan aksi teatrikal yang menggambarkan eksploitasi lumba-lumba serta menyerahkan surat keberatan izin pentas lumba-lumba keliling kepada bupati.

Surat keberatan tersebut disampaikan kepada Kepala Kantor Satpol PP Pati Suhud.

Aktivis lingkungan tersebut juga mengirim surat serupa ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah I Jateng yang berada di Jalan Pati-Kudus.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Pati Suhud mengungkapkan, pemkab masih melakukan kajian atas pengajuan izin pentas lumba-lumba tersebut.

“Jika belum mengantongi izin, tentunya pentas aneka satwa tersebut tidak bisa digelar,” ujarnya.

Arena pentas aneka satwa di kompleks Stadion Joyokusumo Pati, saat ini telah siap untuk menggelar pertunjukan.(ant/bj02)